Kesulitan Dalam Wawancara

SAYA mengawali penggarapan Sintren dengan berbagai wawancara, baik langsung ke pelaku Sintren, juga Pawang  Sintren, Para Panjak dan pemilik seperangkat musik untuk pertunjukkan Sintren.

Dalam wawancara itu saya ditemani bulek saya juga almarhum bapak. Sayang, bapak pergi sebelum bisa menikmati karya saya. Sintren merupakan novel perdana saya, yang semula ingin saya tunjukkan pada bapak. Ini lho Pak, karya saya. Karena pada awalnya almarhum bapak tak mendukung saya menjadi penulis. Bapak lebih suka saya berdagang, meneruskan usahanya. Dulu, kami sering berselisih paham hingga akhirnya, bapak merestui saya menulis setelah saya mampu membeli seperangkat televisi, dari honorarium cerpen saya yang dimuat di majalah terbitan Brunei Darussalam. (lebih…)

Iklan

Oktober 13, 2009 at 1:42 pm 2 komentar

Tokoh Sintren

 BERMULA dari ucapan Abang, begitu saya memanggil suami agar saya memulai saja menulis novel. “Kembangkan saja cerpen Sintren,” begitu ucapnya. Saya jadi terusik untuk mengangkat Sintren, salah satu tarian yang dulu sering dipertunjukkan menjelang tujuhbelasan di kampung saya, Batang. Sintren merupakan kenangan masa kanak-kanak saya. Saya suka melihat pertunjukkan itu meski tak sampai selesai. Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pertunjukkan sintren biasanya dimulai pukul sembilan malam, di tanah lapang. Makanya saya sering pulang terlebih dulu karena anak perempuan tabu bagi masyarakat kami, jika malam masih diluar rumah. (lebih…)

Oktober 12, 2009 at 12:22 pm Tinggalkan komentar

Dari Sebuah Cerpen

 NOVEL Sintren bermula dari sebuah cerpen yang saya tulis dengan niat mengirimkannya ke harian Republika. Waktu itu saya sedang berada di Batang. Sebuah harian nasional menarik perhatian saya dan membacanya di rubrik budaya. Di situ terdapat seorang seniman yang melestrikan salah satu budaya lokal. Seingatku bukanlah sintren, tetapi saat itu pikiran saya tergerak untuk menulis tentang sintren. Cerpen Sintren saya buat dalam waktu singkat dan saya langsung mengirimkannya ke Republika. Dalam hitungan minggu cerpen itu dimuat di harian yang sama di bulan Oktober 1998. (lebih…)

Oktober 7, 2009 at 5:18 am Tinggalkan komentar

Dari Sebuah Cerpen

 NOVEL Sintren bermula dari sebuah cerpen yang saya tulis dengan niat mengirimkannya ke harian Republika. Waktu itu saya sedang berada di Batang. Sebuah harian nasional menarik perhatian saya dan membacanya di rubrik budaya. Di situ terdapat seorang seniman yang melestrikan salah satu budaya lokal. Seingatku bukanlah sintren, tetapi saat itu pikiran saya tergerak untuk menulis tentang sintren. Cerpen Sintren saya buat dalam waktu singkat dan saya langsung mengirimkannya ke Republika. Dalam hitungan minggu cerpen itu dimuat di harian yang sama di bulan Oktober 1998. (lebih…)

Oktober 6, 2009 at 1:50 pm Tinggalkan komentar

Berkunjung ke Sekolah Saraswati dan Nawang

BATANG, kota ini mengental dalam kesadaranku saat jauh di Jakarta. Aku justru bisa menumpahkan Batang yang eksotik dengan bentangan sawah, kibasan sayap itik di tepi Kali, juga lenguhan khas kerbau.
Saat mudik lebaran kemarin, malam hari aku bersama suami, anak-anak dan Dian, adik bungsu, berencana cari makan keluar. Kami belum tahu mau makan di Alun-alun Batang, atau cari Tauto ke Pekalongan. Akhirnya mobil berjalan begitu saja, mulanya kami lewat Teratai Lor, di jalan Yos Sudarso, jalan menuju pantai Batang. Kami belok kiri. Di Teratai Lor ini banyak famili tinggal, tetapi kami tak singgah, mengingat malam hari. Kurang enak. (lebih…)

Oktober 3, 2009 at 5:16 am Tinggalkan komentar

Kenangan Masa Kanak-kanak

SEMALAM ketika saya sedang menulis, melintas tetangga saya. Mbah, begitu saya suka menyapa. Disamping memang usianya yang jauh lebih tua, beliau termasuk yang dituakan. Pensiunan guru di Biak itu, termasuk tetangga yang suka bertukar pikiran dengan saya. Saya yang sedang menyelesaikan novel, nggak enak ketika melihat beliau duduk di teras. Malam hari saya suka pindah ke ruang depan untuk menulis, sambil menemani anak-anak belajar juga sibungsu bermain. Akhirnya saya beranjak dari komputer, menemui mbah dan ngobrol sejenak. Akhirya obrolan sampai ke novel Sintren, yang terbit 2007 lalu. (lebih…)

Oktober 1, 2009 at 4:05 am 1 komentar

Mudik

LEBARAN adalah alasan tepat untuk mengunjungi kampung halaman. Tradisi yang tak mungkin terhapus ini sangat terasa di Indonesia, ketimbang Negara-negara lain. Mudik di negeri kita begitu heroik. Lihat saja di stasiun kereta api, misalnya. Orang-orang mau menunggu untuk waktu lama demi sebuah tiket ke kampung halaman. Di jalan raya, tak jarang kita lihat tumpukan barang di atap mobil. Entah oleh-oleh apa yang dibawa ke kampung halaman itu. Begitu pula dengan pengendara sepeda motor, keluarga kecil dengan satu atau dua anak tak ragu-ragu untuk mudik dengan bermotor. (lebih…)

September 29, 2009 at 12:57 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kategori

  • Blogroll

  • Feed