Si Miskin

Juli 14, 2010 at 3:21 am 2 komentar

DALAM menulis novel saya sangat menyukai masalah-masalah yang bertemakan sosial, seperti kemiskinan yang membelit masyarakat kita.  Perempuan, kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan kemudian menjadi mata rantai dalam novel saya, Sintren.

Di mana pun tempat si miskin kurang mendapat tempat. Baik untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan, misalnya. Untuk pendidikan saja sekolah mahal produk pemerintah tak memugkinkan bagi si miskin untuk bisa menikmatinya. RSBI jelas hanya bisa dinikmati oleh anak-anak orang kaya. Biaya masuknya sering membuat orang tercengang.
Bagaimana si miskin dalam novel Sintren. Zaman saya sekolah dsar dulu ada sebagian orangtua yang kesulitan menyekolahkan anaknya. Menunggak SPP sampai tiga bulan sering saya dengar. Herannya banyak dari mereka malah anak-anak yang cerdas. Saya ingat mereka yang tak bisa sekolah sampai ke SMP hingga SMA sering Karen alasasan ekonomi.

Saraswati yang cerdas sekaligus cantik adalah perempuan yang lahir dari miskin. Bapaknya bekerja sebagai penarik becak, sedangkan maknya sebagai buruh.  Meski demikian dia memiliki impian besar. Dia ingin sekolah sampai SMA, hingga impian itu membuatnya menjadi penari Sintren.
Perjalanan Saraswati adalah untuk mengenang teman saya semasa sekolah dasar di Kasepuhan dulu. Dia memang dari keluarga miskin, tetapi teman saya itu ingin sekali sekolah tinggi. Karenanya tawaran menjadi sintren ia terima, karena dari menari sintren ia dapatkan uang yang jumlahnya lumayan besar bagi ukuran dia.
Sekarang teman saya itu masih tinggal di Batang, dan satu pengakuannya tak ingin anaknya kelak menjadi Sintren. Jadilah Sintren seperti menghilang di tanah Batang. Sintren merupakan novel perdana saya, yang di luar dugaan saya masuk lima besar Khatulistwa Literary Award 2007. Hingga kini saya sering mendapat kejutan, teman-teman mahasiswa mengabarkan tengah menyusun skripsi dengan novel Sintren sebagai obyeknya. Tentu ini energi besar buat saya untuk terus berkarya. Terimakasih.

Entry filed under: Dibalik Novel SINTREN. Tags: .

Klidang

2 Komentar Add your own

  • 1. Ahkmat Rifa'i  |  Januari 16, 2013 pukul 1:11 am

    alhamdulillah saya juga mencoba meneliti realitas sosial yang terjadi dalam novel sintren ini untuk persyaratan gelar sarjana yanga akan saya coba capai, mohon suport dan doa, aamiin…

    Balas
  • 2. SanG BaYAnG  |  Januari 30, 2013 pukul 7:43 pm

    Semoga makin sukses selalu untukmu Kawan..🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Juli 2010
S S R K J S M
« Mei    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: