Klidang

Mei 6, 2010 at 7:02 am 1 komentar

MASA kanak-kanakku lebih banyak tinggal di rumah nenek di dusun Teratai Kidul. Lidah wong Batang biasa menyebutnya dengan Nrate. Karenanya saya lebih banyak memiliki teman-teman di Terate Kidul daripada di rumah ibu di Pejambon. Masa sekolah dasar pun bukannya di SDN Proyonanggan tetapi di SDN Kasepuhan. Di sekolah dasar itu terdapat lapangan Kanoman yang biasanya digunakan untuk pentas tarian Sintren.

Menginjak SMP saya diterima di SMPN I Batang. Otomatis saya kembali ke rumah orangtua saya di Pejambon. Tempat tinggal saya yang terletak di tepi jalan raya membuat saya tak leluasa bermain dengan teman-teman sebaya untuk bermain.  Jika ingin  bermain saya harus keluar rumah dan itu seringkali tak mungkin karena saya harus menjaga warung.

Akhirnya masa kecil saya lebih banyak di rumah. Satu hal yang saya suka adalah jika hari Minggu tiba. Biasanya pagi-pagi saya mengayuh sepeda kumbang menuju pantai Batang yang jaraknya dua kilo dari rumah. Sepeda kumbang ini sekali saya kayuh bisa melampaui satu meteran ke depan. Sepanjang jalan merupakan hal-hal yang menarik bagi saya. Saya bisa bertemu dengan orang-orang yang berjualan ikan pindang dengan keliling kampung. Biasanya mereka menggunakan kain batik dan kebaya. Ibu saya punya langganan ikan pindang sama mbak Sri.

Menuju laut akan melewati Klidang. Di Klidang ini sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan.

Melewati Klidang akan terhirup aroma khas ikan, karena di sini juga dibuat ikan asin, ikan panggang, ikan pindang dan jual beli ikan segar. Pada Klidang inilah saya torehkan ke dalam novel sebagai setting. 

Novel Sintren adalah ungkapan kerinduan saya, keinginan kembali, juga kecintaan saya terhadap Batang, tanah leluhur saya. Novel perdana ini  mengejutkan saya karena  masuk ke dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007.  Terimakasih saya ucapkan kepada para dosen yang mendiskusikan novel ini dalam di dalam kampus juga teman-teman mahasiswa yang menjadikan novel ini sebagai bahan skripsi.

Entry filed under: Dibalik Novel SINTREN. Tags: .

Sintren Si Miskin

1 Komentar Add your own

  • 1. Danang  |  Januari 10, 2012 pukul 6:03 am

    wuih bagus nih tempat lahirku masuk ke novel haha
    sintren patut dilestarikan!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: