Menghilangkan Kesenian Tradisional

November 1, 2009 at 12:12 pm Tinggalkan komentar

 Seorang pembaca novel Sintren mengeluh kepada saya, jika salah satu tarian yang dulu menjadi kebanggaan kampungnya sekarang hampir menghilang. Tari Jaipongan, begitu ujar teman saya itu, kurang diminati kaum remaja. Dia berharap masih ada generasi muda yang masih peduli dengan budaya bangsa yang sesungguhnya selalu eksotik. Tak berbeda dengan Jaipongan, nasib kesenian lokal yang berunsur magis, Sintren bisa saya pastikan telah punah di kabupaten Batang. Tarian yang membentang sepanjang pantura ini masih bisa dinikmati oleh warga Cirebon. Di Batang, tanah kelahiranku Sintren terakhir kali saya lihat ketika saya duduk di kelas empat SD. Sejak itu Sintren jarang dipentaskan, hingga adik-adik saya tidak tahu persis Sintren itu seperti apa. Terkadang saya ingin kembali membangkitkan tarian Sintren. Saya kadang bermimpi ada pawing atau pencari Sintren, yang bisa menghidupkan kembali salah satu kekayaan budaya yang pernah kami miliki. Entah ini hanya impian atau suatu ketika Sintren hidup lagi di Batang.

Entry filed under: Dibalik Novel SINTREN. Tags: .

Sintren, Tarian Beraroma Magis Diskriminasi Terhadap Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: