Tokoh Sintren

Oktober 12, 2009 at 12:22 pm Tinggalkan komentar

 BERMULA dari ucapan Abang, begitu saya memanggil suami agar saya memulai saja menulis novel. “Kembangkan saja cerpen Sintren,” begitu ucapnya. Saya jadi terusik untuk mengangkat Sintren, salah satu tarian yang dulu sering dipertunjukkan menjelang tujuhbelasan di kampung saya, Batang. Sintren merupakan kenangan masa kanak-kanak saya. Saya suka melihat pertunjukkan itu meski tak sampai selesai. Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pertunjukkan sintren biasanya dimulai pukul sembilan malam, di tanah lapang. Makanya saya sering pulang terlebih dulu karena anak perempuan tabu bagi masyarakat kami, jika malam masih diluar rumah. Untuk mendapatkan ruh cerita, saya tak hanya mengandalkan ingatan di masa kecil. Saya juga melakukan wawancara langsung dengan penari Sintren sungguhan. Kebetulan dia teman saya satu angkatan, juga sekolah di kompleks SDN Kasepuhan. Hanya saja dia sekolah di SDN V. Kami sudah saling kenal. Maka wawancara pun berjalan lancar. Ada yang menarik, ketika saya tanya apakah kelak, bila ada yang mengajak anak perempuannya menjadi Sintren, ia mengizinkan? Dengan tegas dia menggeleng. Entah apa maksudnya.

Entry filed under: Dibalik Novel SINTREN. Tags: .

Dari Sebuah Cerpen Kesulitan Dalam Wawancara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: