Sintren, Riwayatmu Kini…

September 7, 2007 at 10:42 am Tinggalkan komentar

DAMHURI MUHAMMAD

Sumber: KOMPAS, Senin, 30 Juli 2007

Bilamana tabiat para sastrawan hanya sekadar menjalankan laku mimetik dan
menggambarkan wajah realitas sebagaimana yang “tersurat” saja (bukan
tersirat), karya sastra tentu saja bakal segera menjemukan, lekas lapuk
dimakan waktu.

Lagi pula, laku peniruan sukar dipertanggungjawabkan sebagai kerja kreatif
yang selalu saja menyimpan obsesi-obsesi literer. Maka, pergulatan melahirkan
karya sastra semestinya bergeser dari sekadar tiru-meniru realitas menjadi
sebuah “ikhtiar” menciptakan realitas baru, bila perlu dengan cara meloncati
atau “melampaui” realitas usang, merangsek masuk ke lorong-lorong permenungan
yang tidak berhasil ditembus oleh para filsuf.

Barangkali, di titik inilah letak perbedaan antara jalan sastra dan jalan
filsafat. Bila tradisi berpikir diskursif-spekulatif di medan filsafat
senantiasa mengayuh biduk menuju hulu, tempat kebenaran bersemayam, sastra
justru bersitungkin menggali lubang-lubang kemungkinan sebanyak mungkin agar
pencarian itu tidak berlabuh pada wujud kebenaran yang bulat, dan tidak
melulu tertumpu pada arche transendental yang tunggal dan tak sumbing
sebagaimana yang hendak digenggam oleh filsafat.

Filsafat begitu bernafsu dan menggebu-gebu ingin menggapai “semesta
kepastian”, sebaliknya, sastra malah tekun membukakan pintu-pintu
“keserbamungkinan”.

Pertentangan dua realitas

Watak literer yang terobsesi hendak membangun (setidaknya menawarkan) dunia
baru dalam sastra sangat terasa pada novel Sintren, karya novelis muda
Dianing Widya Yudhistira ini. Ia mempertentangkan dua sisi realitas dalam
posisi saling membelakangi. Realitas pertama adalah dunia keseharian
Saraswati, murid SD berparas ayu tapi terlahir dari keluarga miskin.

Pada jam istiharat, ia lebih suka membaca buku di ruang kelas, sementara
kawan-kawannya menghambur-hamburkan uang jajan di kantin sekolah. Jangankan
beroleh uang jajan dari Mak, uang sekolah saja sudah menunggak tiga bulan.

Kemiskinan itulah yang membuat ia selalu tergesa-gesa melucuti seragam seusai
jam sekolah, lalu bergegas ke Klidang, membantu Mak yang bekerja sebagai
buruh penjemur ikan.

Sementara realitas kedua adalah ruang dan waktu suprainderawi yang diselami
Saraswati tatkala gadis bau kencur itu harus tampil sebagai penari sintren.
Tubuhnya dibebat dengan berlapis-lapis pakaian, lalu diikat erat-erat dengan
tali yang melilit sekujur badan sebagaimana kerap dijumpai dalam atraksi
sulap tingkat tinggi, setelah itu ia dimasukkan ke kurungan ayam.

Tak lama kemudian, Mbah Mo mulai melafalkan mantra-mantra gaib, hingga
datanglah serombongan anak kecil menghampiri Saraswati. Mereka akan segera
merasuki raga Saraswati untuk kemudian dilenggak-lenggokkan serupa anak-anak
kecil sungguhan bermain boneka.

Penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai kegirangan menyaksikan sintren
yang tiba-tiba muncul dalam keadaan sudah berdandan ala penari, memancarkan
aura kecantikan yang membuat mata para lelaki enggan berkedip, pinggang
langsing Saraswati meliuk-liuk, sampai tiba saatnya menagih saweran.

Padahal, sesungguhnya, Saraswati tidak beranjak ke mana- mana, ia tetap duduk
diam dalam kurungan, bahkan ikut pula menyaksikan lentik jemarinya
berayun-berayun gemulai seiring irama gendang.

Sintren dunia gaib

Peristiwa metafisis tatkala Saraswati menjadi sintren inilah yang dapat
disebut sebagai salah satu lubang “keserbamungkinan” hasil galian pengarang
dalam rangka membangun dan menawarkan realitas baru.

Boleh jadi tidak ada pretensi pengarang untuk menonjolkan salah satu sisi dari
dua dunia yang saling membelakang bulat itu.

Tetapi, “diam-diam” kekuatan teks seolah menyuarakan bahwa pengalaman
supranatural dan adikodrati yang dialami Saraswati adalah sungguh-sungguh
nyata. Senyata peristiwa ketika gadis kecil itu dipaksa menerima lamaran
Kirman, anak juragan Wargo, di usia yang belum genap empat belas tahun (meski
pernikahan itu gagal), senyata kemelaratan yang tak jemu-jemu menimpa
keluarganya.

Ketakmujuran itu pula yang membuat Saraswati terpaksa menjadi sintren agar ia
tetap bisa sekolah. Membiayai sekolah dengan uang saweran.

Dunia sintren memang dunia gaib, asing dan tak kasatmata, selayaknya dunia
pesugihan yang selalu menghendaki tumbal. Tumbal paling mula tentulah si
penari itu sendiri. Betapa tidak?

Sejak jadi penari sintren, Saraswati dengan lapang dada harus menerima
kenyataan bakal kerasukan setan di setiap penampilan, harus pula pasrah pada
“takdir” sintren yang cantik alang kepalang, tapi pantang disentuh laki-laki
sebab dunia sintren menghendaki keperawanan abadi, tiada seorang laki-laki
pun yang boleh menjamah tubuhnya.

Tumbal selanjutnya tentu saja para lelaki yang mabuk kepayang dan tergila-gila
ingin mempersunting Saraswati. Lihatlah riwayat peruntungan Dharma, Warno,
Royali, dan Sumito, empat laki-laki yang pernah nekat mempersunting
Saraswati, semuanya mati mengenaskan sebelum sempat mencicipi ranum tubuh
sintren paling masyhur di Kampung Batang itu.

Namun, Saraswati sudah kadung menjatuhkan pilihan, tidak bakal sanggup ia
melarikan diri dari kurungan gaib itu, mustahil ia berhenti jadi penari
sintren. Saraswati siap menanggung segala akibat dari pilihannya, siapa
melompat siapa jatuh.

Sampai di titik ini, realitas yang tidak kasatmata telah menjelma dunia yang
sesungguhnya, sementara keseharian Saras dengan Wati, Sinur dan teman-teman
sekolahnya seolah-olah tidak nyata, seakan-akan fiksi belaka, begitu juga
kesehariannya dengan Mak, Bapak, Lik Wastini, Lik Menur, dan juragan Wargo.

Itu sebabnya Saraswati dengan berat hati menolak lamaran Sinur. Menerimanya
sama saja dengan mempercepat kematian laki-laki pujaannya itu. Saraswati
berusaha memercayai gejolak cintanya kepada Sinur adalah angan-angan saja,
tidak nyata, karena yang paling nyata bagi gadis itu adalah dirinya sintren
yang telah menelan banyak korban.

Tarian sintren

Hampir separuh dari kisah yang disuguhkan buku ini menyiratkan semacam
kerinduan pada tarian sintren yang perlahan-lahan mulai punah di Batang,
kampung kelahiran Saraswati. Dan separuhnya lagi menampakkan kelegaan setelah
kematian Saraswati, pangkal segala bala, biang segala tumbal, musabab segala
sial.

Laku bertutur Dianing memang tidak terlalu menggiurkan, datar, bersahaja, dan
tidak pongah mempermainkan bentuk sebagaimana perilaku novelis muda lainnya.
Alurnya lempeng, gampang ditebak, tidak berpilin-pilin. Tapi, justru dalam
kesederhanaan itu keistimewaan novel ini mengemuka.

Meskipun pilihan tematiknya terbilang berat, setidaknya memerlukan penghayatan
dan kepekaan tingkat tinggi, Dianing berhasil mengangkat sintren dengan
menggunakan point of view masa kanak-kanak. Ia menghayati sintren seperti
merindukan kenangan masa kecil yang begitu mengasyikkan.

Di tangan Dianing, jelajah prosaik yang “asing” sekalipun ternyata dapat
tergarap dengan laku penuturan yang lugas dan terang-benderang sehingga buku
sastra tidak melulu dinikmati oleh peminat sastra belaka, tapi juga
digandrungi peminat buku-buku fiksi umumnya.

Barangkali, kebersahajaan dalam merancang kisah macam inilah yang selama ini
terabaikan dalam kerja kreatif novelis-novelis kita yang kerap sumringah
hendak melahirkan teks sastra simbolik, metaforik, bila perlu (sengaja)
dirumit-rumitkan. Tapi, celakanya, sebagian besar buku sastra hanya dapat
digauli oleh peminat sastra yang jumlahnya tak seberapa, seperti cemoohan
bahasa iklan; jeruk makan jeruk….

DAMHURI MUHAMMAD Cerpenis; Bermukim di Pinggiran Jakarta

Entry filed under: Kliping Sintren. Tags: .

Sintren Mudik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: