Novelis dalam Konteks Sastra Indonesia

April 29, 2007 at 5:44 am 1 komentar

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 April 2007

BERMUNCULANNYA para penulis baru dalam kancah sastra Tanah Air ditandai buku-buku terbaru karya-karya penulis anak negeri. Hal ini diharapkan dapat memacu perkembangan sastra Tanah Air yang lebih didominasi para pemula dengan berbagai ragam tema serta perkembangannya menuju teks sastra yang hidup.

Seperti pada novel Dianing W. Yudhistira didominasi tokoh Sasaswati yang mencoba digambarkannya sebagai gadis belia yang cerdas dari keluarga miskin. Gadis berusia 13 tahun itu gagal menikah dengan Kirman, anak dari juragan Wargo di kampungnya. Dalam hitungan Saraswati, terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk menjadi seorang sintren, agar dia bisa ikut membiayai sekolahnya.

Yang terjadi justru Ia menerima cercaan lingkungannya. Sebagai seorang sintren. Dengan pesona yang dimilikinya, Sarawati menjadi pusat perhatian dan pujaan para lelaki (baik bujangan maupun yang sudah menikah–dari segala lapisan dan golongan–sehingga menjadi pusat hinaan kaum istri).

Membaca novel tersebut, diharapkan pembaca dapat merasakan beban keluarga dalam lingkungan sosial masyarakat untuk memahami pahit dan getirnya realitas hidup yang dijalani Saraswati.

Dalam novel ini, kekuatan cerita seberapa jauh penulisnya mampu menangkap sinyal-sinyal realitas sosial kedalam alur cerita yang ingin disampaikan, mampu memasuki unsur-unsur sosial yang digambarkan. Meskipun cerita bernuansa kehidupan dan cinta, penulisnya praktis dan simpel membangun rangkaian peristiwa kedalam sekelumit persoalan dalam keluarga.

Di lain sisi, novel ini sarat muatan sosial keluaraga. Di sisi yang lain novel ini mencoba menggali tradisi lokal kelas bawah yang didominasi kaum kelas atas yang kadang mengambil kelemahan kaum kelas bawah (dalam hal ini keluarga Saraswati) untuk menerima atas permintaan lamarannya.

Untuk itu, pada dasarnya kerangka mengembangkan pola alur cerita dalam novel ini terasa disesuaikan dengan tokoh-tokohnya dalam cerita, terutama dalam membangun karakter tokoh-tokohnya kedalam alur cerita.

Mungkin ada banyak kisah menarik sebelum menarik kesimpulan dari tema yang ingin disampaikan. Terutama dalam hal ini membangun persoalan sehingga peristiwa tidak dibuat kaku. Sehingga rangkaian peritiwa dan struktur penceritaannya begitu kuat dan kesimpulan tema dengan mudah didapat.

Akhirnya pembaca dengan mudah menangkap jalan cerita yang disuguhkan. Dan ruang lingkup konflik yang ditawarkan cukup luas. Tinggal bagaimana pembaca mengikuti alur cerita yang disampaikan yang telah dibumbui kepahitan dan kesedihan. Getir-getir cinta yang dapat membawa pembaca kepada frekuensi kematangan penulis dalam memahami kehidupan sosial dalam lingkungan masyarakat.

Jikalau diperhatikan, novel ini hampir mirip dengan novelis-novelis mutakhir “Indonesia” tahun 1930-an ketika Armin Pane, Suman H.S., Hamka, dan lain-lain yang mengangkat persoalan urbanistik dan mengeksplorasinya kekayaan lokal dengan konsep cita rasa modern.

Lokalitas dan urbanitas dalam sastra Tanah Air telah dibahas sebelumnya oleh Ahmadun Yosi Herfanda dalam esai (Republika, Ahad, tanggal 17 September 2006, “Antara Lokalitas dan Urbanitas Cerpen Indonesia”), sebagai prasaran Kongres Cerpen Indonesia (KCI) tahun 2005. Mengetengahkan bahwa dalam upaya mengengkat tradisi khazanah sastra Tanah Air dalam kekayaan lokal dan mengeksplorasinya ke dalam cita rasa modern.

Masalahnya, pembentukan jalan cerita dalam novel ini didominasi selera pasar hingga tidak ada jalan lain untuk mengangkat sektor lain yang belum pernah terdengar kabar tentang keberadaannya. Pertanyaannya, bagaimana seorang penulis menjembatani lahirnya novel tanpa perubahan yang mendasar “sastra bergenre sastra” ke wilayah cara pandang global dan mereduksinya ke akar perubahan global.

Secara konstitusional lahirnya lokalitas dan urbanitas di tengah maraknya arus perkembangan karya sastra kearah global mereduksi akar perubahan kemajuan budaya di tengah perkembangannya kearah modernitas akar perubahan sastra Tanah Air.

Pada kenyataan nantinya, karya sastra bergenre sastra berevolusi pada kematangan sebuah karya penulis Tanah Air untuk menggali akar budaya sosial dalam aneka warna local dalam kancah sastra Tanah Air, mencari dan menggali alternatif lain kedalam setiap sudut persoalan.

Memang, pada akhirnya memangku jabatan sebuah novel harus memiliki konsep yang sangat jelas ditulis dengan kematangan penulis dalam mereduksi akar perubahan dalam sudut pandang yang berbeda tanpa mengesampingkan kebutuhan pasar yang ada dan penerbitan.

Hal ini dirasakan cukup menarik, sebagai upaya keluar dari persoalan yang diangkat dalam cerita, penulis dapat mengeksplorasi masyarakat urban kepada persoalan-persoalan “kompleksitas” kekayaan budaya yang termarginalkan dan mereduksinya kembali kedalam “konkretisitas” masyarakat dalam ruang peristiwa yang sering memunculkan beragam fenomena-fenomena lokalitas budaya yang termarginalkan tersebut.

Titik nominal dari sebuah karya adalah mampu atau tidaknya penulis mengembangkan “sayap imajinasinya, merasuk mitos budaya sebuah karya sastra dengan jalan cerita dan tema yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sehingga, jalan cerita lebih menggambarkan kepada realitas masyarakat sosial.

Diharapkan penulis mutlak melahirkan wajah baru dalam kemajuan karya sastra mereduksinya akar perubahan dari sudut pandang ke arah wilayah “verbal” budaya. Meskipun karya sastra mengalami persoalan-persoalan yang sangat kompleks mengangkat kehidupan dan cinta dalam sosial lingkungan masyarakat setidaknya merefleksikan akar budaya bangsa kedalam akar budaya global masa kini yang berlangsung dalam tatanan-tatanan sosial budaya dalam masyarakt kita. n

Sayyid Fahmi Alathas, penyair, tinggal di Labuhan Maringgai, Lampung Timur
———–

link:
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2007042211562312

Entry filed under: Berita Tentang Sintren. Tags: .

Ternyata Sintren Pernah Diangkat ke Film Sintren

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: