Ternyata Sintren Pernah Diangkat ke Film

April 19, 2007 at 10:37 am 9 komentar

Ternyata kesenian Sintren pernah diangkat ke film. Soal ini sempat heboh pula. Saya baru menemukan berita tentang kehebohan film itu dari koran Suara Merdeka. Kehebohan pertama soal hak cipta. Komunitas Seniman Sinematografi (KSS) Kecamatan Larangan, Brebes, mengklaim film yang menceritakan kehidupan masyarakat Desa/Kecamatan Larangan tersebut adalah hasil karya atau hak cipta dari anggota KSS. Di lain pihak, Sindoro Multimedia Studio’s, yang membuat film ini, bersikukuh bahwa ini film bikinanna. Bagaimana peserteruan mereka? Simak kliping berita berikut:

——————————
Kontroversial, Pemutaran Film Sintren oh Sintren di Tegal

Sumber: Selasa, 12 Juli 2005
http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/12/pan21.htm

TEGAL- Film lokal berjudul Sintren oh Sintren yang beberapa waktu lalu diputar di Gedung Kesenian Kota Tegal, mengundang kontroversi. Film produksi Sindoro Multimedia Studio’s tersebut menceritakan tentang keinginan seseorang untuk menghidupkan kembali tradisi kesenian sintren.

Dalam film itu dikisahkan seorang anak gadis dari tokoh bernama Karta yang belum menikah, padahal usianya mendekati rawan. Kemudian, dia ingin menggelar sintren dengan harapan sang anak cepat menikah.

Film tersebut juga membandingkan orkes dangdut yang lebih diminati masyarakat, daripada tontonan sintren yang dinilai sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan.

Menurut seniman Tegal yang juga pengamat film, Nur Hidayat Poso, sinematografi film itu amat lemah dan pilihan castingnya terkesan asal-asalan.

Bahkan, ujar dia, skenario tak punya kekuatan. Dia juga menyayangkan adanya iringan musik barat pada film tersebut, yang menurutnya tidak sesuai dengan tema sintren sebagai kesenian tradisional. “Kenapa harus pakai musik barat?” ujar dia.

Penonton lain, Budi Ilalang sependapat penggarapan film tersebut masih kurang baik. Hal itu ditunjukkan dalam beberapa adegan yang dinilainya kurang dihayati pemainnya, terutama pemain tua.

“Mereka masih kaku dengan tokoh yang diperankan,” ujar dia. Begitu juga dengan musik yang menjadi pengiring dinilai kurang pas, karena sutradara ingin mengangkat tema kesenian sintren tetapi musik yang digunakan malah pop modern.

“Musik pop yang antara lain dari Melly Guslow, Peterpan, dan ‘Bungaku’ dari Boomerang, saya pikir kurang pas untuk digunakan dalam film tersebut,” urai dia.

Mengambang

Akhir dari film itu, menurut sebagian penonton, mengambang. Sebab, ruwatan yang direncanakan Pak Karta belum terlaksana. Sintren pun tidak banyak diminati, masih kalah dengan orkes dangdut yang digelar di Desa Larangan, Kabupaten Brebes sebagai setting film tersebut.

Meski demikian, menurut produser film Budi Prasetyo, dirinya sengaja memberikan nuansa berbeda untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Sebab, kata dia, apresiasi masyarakat Kota Tegal terhadap kesenian masih kurang. Dia memunculkan musik modern dalam film tersebut, sebagai salah satu upaya agar masyarakat Kota Tegal mau lebih tahu mengenai kesenian.

Begitu juga dengan dialog antarpemain yang dapat dikatakan tidak konsisten. “Saya ingin menyampaikan memang seperti itulah kehidupan masyarakat Kota Tegal yang kadang-kadang menggunakan bahasa tegalannya dan di waktu lain juga menggunakan bahasa Indonesia,” papar dia, di kantornya di Jalan Nakula 58 Tegal.

Selain itu akhir film yang dibuatnya bersama Komunitas Seniman Senimatografi (KSS), tambah dia, juga sengaja dibuat supaya penonton berinterpretasi sendiri.

“Saya mencoba memberikan kesempatan kepada penonton untuk menilai kisah selanjutnya, karena saya ingin memberikan pembelajaran sinematografi kepada masyarakat Kota Tegal.”(lei-19s)

—————–

Soal Hak Cipta
KSS Protes Pemutaran Sintren oh Sintren

Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 16 Juli 2005
http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/16/pan08.htm

BREBES- Pemutaran film lokal yang berjudul Sintren oh Sintren yang dilakukan Sindoro Multimedia Studio’s -berdomisili di Kota Tegal- diprotes Komunitas Seniman Sinematografi (KSS) Kecamatan Larangan, Brebes.

Sebab saat penayangan film tersebut, pihak Sindoro mengakui film itu merupakan hasil produksinya. Padahal menurut keterangan Ketua KSS, Kuntoro, film yang mengisahkan kehidupan masyarakat Desa/Kecamatan Larangan tersebut adalah hasil karya atau hak cipta dari anggota KSS.

“Kami mengajak kerja sama Sindoro karena keterbatasan alat. Penulis naskah dan sutradanya semuanya dilakukan oleh anggota kami,” tegas dia, kemarin.

Menurutnya, awal pembuatan film itu diambil ketika Rofi AD, penulis naskah film tersebut, berada di salah satu Kecamatan Larangan dan melihat warga setempat memainkan kesenian sintren (kesenian tradisional khas Kabupaten Brebes-Red). Dari pengalaman itu, dia mengungkapkan idenya kepada anggota KSS, yakni ingin membuat film mengenai kesenian tersebut. Alasannya, kesenian itu sangat unik dan sebagai warga Brebes, dia ingin menenarkan sintren melalui film.

Usulan tersebut akhirnya diterima oleh seluruh anggota KSS, dan proses pembuatan naskah pun segera dilakukan. Namun, kata Kuntoro, pada saat mau mewujudkan naskah tersebut menjadi sebuah film, mereka mengalami kendala soal peralatan. Karena keterbatasan alat tersebut, akhirnya KSS mengajak Sindoro Multimedia Studio’s memproduksi film. Kerja sama pun berjalan hingga tahap pembuatan film selesai.

“Entah kenapa, tiba-tiba pihak Sindoro meminta uang kepada kami Rp 1 juta guna pembuatan film tersebut. Demi lancarnya pembuatan film, akhirnya kami menyerahkan uang sebanyak itu,” papar dia.

Berikan Kontribusi

Selanjutnya, ungkap dia, yang menjadikan KSS tidak terima dengan pemutaran film Sintren oh Sintren, yakni pihak Sindoro mengakui kalau film tersebut hasil produksinya. Bahkan, pada saat peluncuran perdana film itu, anggota KSS tidak ada yang diundang. “Kami capai-capai membuat film, tetapi mereka yang menikmati hasilnya,” tegas Kuntoro.

Produser Sindoro Multimedia Studio’s, Andi Prasetyo ketika dimintai konfirmasi mengenai hal itu mengatakan, antara dirinya dan KSS sudah terjalin perjanjian. Pihaknya memberikan kontribusi berupa finansial dalam pembuatan film. Karena itu, secara hukum pihaknya sah menyebut Sintren oh Sintren sebagai satu film hasil produksi Sindoro.

“Film ini mau saya buat kartun atau apa saja, itu terserah saya. Sebab merupakan hak kami sebagai pemproduksi film,” tegas dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, Lukman Suyanto SH mengaku cukup prihatin melihat pertikaian antara pihak KSS dan Sindoro. Sebab, menurut informasi, kedua pihak itu sudah melakukan kerja sama dalam pembuatan film itu.

Selanjutnya dengan adanya pertikaian tersebut, dia menginginkan kedua pihak yang sedang bertikai melakukan pertemuan untuk mencapai mufakat.

“Dewan Kesenian sanggup memfasilitasi pertemuan mereka, sehingga pertikaian itu tidak sampai berlanjut,” kata dia.(H4-17s)
——————-

Entry filed under: Sejarah Sintren. Tags: .

Sintren dan Kisah Kasih Sulasih-Raden Sulandono Novelis dalam Konteks Sastra Indonesia

9 Komentar Add your own

  • 1. ternyata  |  Februari 25, 2008 pukul 7:58 pm

    wah ternyata sindoro kaya kue yah… parah tenan

    Balas
  • 2. brebescartoon  |  Februari 27, 2008 pukul 10:30 am

    tegal tegal… kota gede dilawannn…

    Balas
  • 3. avatara  |  Mei 26, 2008 pukul 6:44 am

    minta tolong, kirimkan gambar2 tentang penari sintren dong, thank

    Balas
  • 4. Arie  |  September 21, 2008 pukul 8:37 pm

    Saya sudah pernah nonton film Sintren yang dibicarakan diatas. Produksi memang Sindoro Multimedia Studio’s tetapi tertulis juga nama2 anggota KSS kok, kumplit. Menurut saya sindoro tdk salah, film itu memang produksi mereka, tapi sutradara dan lain2nya dari kss malah ada tulisan di openingnya sindoro multimedia bekerjasama dengan KSS…. Wah kasihan juga sindoro jadi korban kebodohan orang-orang brebes… sabar ya mas.

    Balas
  • 5. Remmy  |  September 21, 2008 pukul 8:44 pm

    Sayang sekali, gw yakin perseteruan itu karena kurang komunikasi. Lagian KSS, duit 1 jt untuk buat film ???!! Beli kaset saja mungkin masih kurang, apalagi sewa peralatan kumplit…weh..weh…
    Setuju dengan komentar arie, kasian sindoro.
    Harusnya dituntut pencemaran nama baik loh….
    Kl aku jd bos nya sindoro sudah habis tuh komunitas
    hik..hik..

    Balas
  • 6. Torro Parengkuhan Dewata  |  Mei 31, 2009 pukul 9:58 am

    mengenai perseteruan antara sindoro’s dan KSS memang sedikit lucu ya? tapi gak apa2 ebagai proses belajar. mungkin juga kedua belah pihak pernah mempunyai kesepakatan bahwa film sintren oh sintren akan menjadi hak cipta bersama, kita gak tau kan? untuk KSS gak usah sedih, mari kita hidupkan budaya sintren asli Larangan yang unik. aku sedang menulis novel sintren versi asli larangan yang bersumber dari desa karanganyar (Larangan barat), penulisanya sudah 70%. novel ini akan menjadi milik Larangan yang ada KSS disitu. aku minta dukunganya ya? tentu saja milik kabupaten Brebes dan bangsa Indonesia. bravo pihak yang benar

    Torro Parengkuhan Dewata
    orang Larangan asli

    Balas
  • 9. Jafar™ (@sajajapra)  |  April 1, 2014 pukul 7:28 pm

    Ada yang berkenan memberikan referensi actor/pelaku sejarah sintren? Mohon infonya via twitter ato email. sajajapra@gmail.com

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: