Sintren “Menari” di Perpustakaan Daerah Banten

April 15, 2007 at 9:18 am Tinggalkan komentar

Sumber: Tabloid PARLE, 5 April 2007
 
Apakah Banten dianggap sebagai wilayah yang memiliki kekayaan tradisi (dalam akar budaya islami) sehingga novel Sintren diluncurkan di sana? “Tujuan kami adalah untuk dapat menggairahkan kegiatan sastra di daerah,“ ujar Wowok Hesti Prabowo selaku ketua panitia, mewakili Komunitas Sastra Indonesia, sebagai penyelenggara acara.
Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira merupakan representasi tradisi dari tanah kelahiran pengarangnya (di Batang). Cerita ini bermula dari sebuah cerpen (1998) yang dikembangkan dan pernah menjadi cerita bersambung di harian Republika tahun 2005. Kini diterbitkan oleh Grasindo. Novel ini dipandang eksotik oleh Kurnia Effendi, salah satu pembicara dalam diskusi, sebagai jejak berharga untuk sebuah tradisi daerah yang mungkin nyaris punah. Dalam Sintren , sang pengarang agaknya mengajak pembacanya untuk mengingat kembali bahwa pernah di suatu masa, peradaban masyarakat Nusantara menganut paham animisme. Ada kekuatan supranatural yang bersifat magis dan mistis dalam proses menjadi Sintren.

Pembacaan petikan akhir novel oleh Widya, pengarangnya, mengawali acara launching yang dihadiri sekitar seratus orang terdiri dari siswa SMA lokal dan mahasiswa Untirta Banten. Lebih istimewa lagi, di ruang baca perpustakaan itu juga hadir sastrawan senior K. Usman. Dalam kesempatan itu, K. Usman mengatakan bahwa novel dengan muatan lokal tetap menarik sepanjang kreatif mengolahnya menjadi bacaan, apalagi jika dengan pandangan baru pengarangnya.

Moh. Wan Anwar, redaktur majalah sastra Horison yang juga menjadi pembicara diskusi, menyampaikan bahwa tradisi dalam novel ini menjadi berkah sekaligus masalah. Menurutnya, Widya telah melakukan hal penting dengan mengeksplorasi isi novel melalui posisi perempuan dalam kehidupan tradisi di daerah yang miskin. Sayangnya Saraswati, tokoh utama dalam Sintren, tidak melalukan pemberontakan.

Menjawab pertanyaan peserta diskusi, Widya menjelaskan tujuan ditulisnya novel Sintren , agar masyarakat (pembaca) diluar wilayah Jawa Tengah tahu tentang tradisi khas Batang. Sebenarnya Sintren juga ada di Brebes, Indramayu, dan daerah lain, tetapi memiliki sedikit perbedaan satu sama lain. “Tak bisa dengan cara lain kecuali berpromosi, bacalah novel itu,“ katanya dengan tertawa renyah.

Acara yang baru pertama kalinya diselenggarakan di perpustkaan Banten itu berlangsung hari Sabtu 24 Maret 2007 yang lalu, pada lepas tengah hari yang cerah. Wakil dari pihak tuan rumah mengharapkan kegiatan ini menjadi awal diskusi sastra selanjutnya, untuk memperkaya potensi daerah. (KE/ Parle )

link:
http://www.tabloidparle.com/news.php?go=fullnews&newsid=368

Entry filed under: Berita Tentang Sintren. Tags: .

Novel Sintren Diluncurkan Eksotisme Lokal sebagai Kekuatan Novel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: