Eksotisme Lokal sebagai Kekuatan Novel

April 15, 2007 at 3:18 pm 1 komentar

Kurnia Effendi
Cerpenis dan peneliti LPKP

Sumber: Republika, Minggu, 15 April 2007  

peluncuran-nvl-sintren-fotokef

Eksotisme selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati (dilihat, dirasakan, dihayati), juga untuk digarap. Kita acapkali memandang dengan nilai lebih pada karya-karya seni yang mengusung unsur eksotisme. Umumnya, unsur-unsur unik seperti itu menjadi kekuatan yang ditonjolkan oleh para kreator di jalur indie (independent).

Sebagai contoh, untuk Indonesia, karya-karya film Garin Nugroho — Puisi yang Tak Terkuburkan dan Opera Jawa — adalah film-film dengan nuansa eksotisme. Demikian pula dengan sastra, yang kerap disebut sebagai induk dari film dan seni peran, akan memiliki posisi tersendiri ketika mengangkat nilai-nilai eksotisme. Lalu, apakah eksotisme itu?

Boleh jadi saya keliru memaknai eksotisme, karena jika sepintas dilihat dalam kamus, berarti sesuatu yang datang dari luar negeri, istimewa, ganjil, asing. Dengan pengertian lain, sebaliknya, orang asing (luar Indonesia) akan melihat keganjilan yang berasal dari Indonesia sebagai hal unik dan eksotik.

Materi yang mengandung keunikan itu biasanya diambil dari khazanah tradisional, dan bagi tlatah Nusantara, kita sangat mudah menemukannya karena begitu banyak suku bangsa yang masing-masing memiliki tradisi berbeda satu sama lain.

Ketika kita menyaksikan ritual sekte voo-doo atau upacara-upacara suku Indian dalam film Amerika, terasa ada nuansa unik karena perilaku ganjil yang disuguhkan. Begitu sebaliknya, upacara Ngaben di Bali menjadi kegiatan yang sangat menarik bagi turis mancanegara.

Namun, justru oleh keanekaragaman budaya suku-suku di Indonesia, antara satu tradisi dengan tradisi yang lain saling memukau. Barangkali, bagi orang yang berasal dari Jawa seperti saya tetap akan melihat sisi eksotisme dari kehidupan tradisional Aceh (dengan akar budaya Islam) atau Bali (dengan akar budaya Hindu).

Saya kira, novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira — yang pernah dimuat secara bersambung di Harian Republika dan kini diterbitkan oleh Grasindo (2007) — dapat diposisikan sebagai karya sastra yang mengandung unsur eksotisme.

Seperti halnya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya masterpiece Ahmad Tohari, Sintren juga menggali realitas yang terjadi di tengah masyarakat Jawa Tengah (dalam hal ini Batang, tanah kelahiran pengarangnya) dengan mengambil tradisi yang paling menarik perhatian.

Melalui novel Sintren, Widya seperti hendak menunjukkan kepada kita, bahwa pernah ada sejarah animisme dalam kehidupan masyarakat Nusantara di masa lalu. Karena, sintren (seperti juga ronggeng, tayub, reog, debus, dan cokek) tidak semata dikendalikan oleh kekuatan manusia biasa. Di sana ada unsur kesaktian, supranatural, mistis, atau kekuatan yang tak kasat mata.

Melalui novel ini, Widya tidak hendak membuat disertasi mengenai sintren sebagai subkultur di tanah kelahirannya. Aroma cinta justru lebih kuat menghiasi seluruh kisah yang sangat khas dengan kehidupan pedesaan. Widya menggarap cerita dengan banyak tokoh yang masing-masing memiliki karakter, yang dengan mudah kita temui di wilayah pemukiman pesisir, yang penduduknya rata-rata miskin.

Dengan tokoh utama Saraswati yang masih duduk di Sekolah Dasar di awal cerita, yang dipandang sebagai perawan cantik oleh ukuran mata Juragan Wargo dan hendak dilamar untuk Kirman, anaknya semata wayang, menjadi simpul dari untaian kisah panjang yang mengetengahkan friksi antartetangga.

Cerita ini hidup karena seluruh kejadian berjalan sangat wajar, perpindahan adegannya mengalir dalam urutan waktu. Pembaca seperti terlibat di antara mereka, mendengar langsung naik-turunnya emosi para tokoh yang dipermainkan oleh setiap kejadian. Hanya dengan mendengar percakapan (dan pertengkaran) antara suami-istri, tetangga, anak-ibu, setiap karakter muncul dengan kuat.

Konflik demi konflik saling terkait, membangun nasib masing-masing tokoh, terutama Saraswati yang ditemukan oleh Mbah Mo dan Larasati untuk menjadi penari sintren, yang seolah menjadi solusi bagi kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarganya.

Hanya dengan pengalaman atau riset yang memadai, novel ini dapat menghadirkan dunia sintren dengan baik. Widya mampu merepresentasikan tradisi itu dengan sejumlah romantisme melalui penyajian yang komunikatif. Kesederhanaan ungkapan Widya justru memberi ruh pada novel ini, dengan tidak lupa mempertahankan idiom-idiom khas orang desa yang tentu akan bergeser makna jika dialihbahasakan.

Namun, yang terpenting dari novel itu adalah tidak memberikan pendapat mengenai baik-buruk manusia, apalagi yang terkait dengan agama. Antara dunia wadag dan alam halus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika Saraswati menjadi sintren yang tersohor dan tercium seorang wartawan, Yudha, yang gandrung berlarut-larut pada pesona kecantikan dan keluwesannya.

Dalam novel Sintren, Widya menggambarkan takdir seorang perempuan (Saraswati) dengan begitu kompleks. Cita-citanya untuk sekolah tinggi nyaris kandas ketika orangtuanya menerima lamaran pemuda kaya, yang sesungguhnya hanya didasari hasrat orang tua (dalam hal ini Juragan Wargo dan Surti).

Kedengkian tetangga telah membatalkan perkawinan itu. Sementara, tangan nasib lain menangkapnya menjadi calon sintren, dan seterusnya, sampai pada kehidupan perkawinannya yang membuat para suaminya meninggal. Di pengujung kisah, jika boleh diungkap di sini, peristiwa kematian Saraswati cukup menjelaskan bahwa dunia magis pun tak luput dari kehendak Tuhan.

Kembali kepada unsur eksotisme, saya menganggap kekuatan novel ini justru pada keberaniannya mengangkat subkultur sebagai perilaku masyarakat yang mungkin saat ini mulai tidak populer. Ketika para pengarang lain beramai-ramai menggagas dunia hedonisme dengan latar perkotaan yang lebih mencuatkan perilaku seks pada tokoh-tokohnya, Widya menggiring kita ke wilayah yang kini teralienasi.

Boleh jadi, sebentar lagi sintren, dan sejumlah kesenian tradisonal lainnya lambat-laun akan punah. Tanpa jejak seperti yang dipetakan oleh Widya, kita bakal kehilangan kandungan nilai yang justru pada awalnya menjadi kekayaan Nusantara. Semakin lenyap suara peradaban lokal (digilas oleh arus globalisasi yang ditandai dengan teknologi informasi), akan semakin langka, dan justru itu semakin terasa eksotis ketika kita mencoba mengangkatnya kembali.

Persoalannya, selalu ada pertentangan yang terjadi menyangkut perbedaan prinsip antara agama (khususnya Islam) dengan seni tradisional yang kerap mengandung ritual yang menghubungkan manusia dengan jin. Kekuatan-kekuatan tak tampak ini sejak nenek-moyang kita memang telah menjadi sandaran yang diandalkan dalam pelbagai kegiatan kehidupan.

Karena itu pula, menurut riwayatnya, masuknya Islam ke tanah Jawa pun yang dibawa oleh Walisongo disisipkan melalui seni-seni tradisi, satu di antaranya seni pertunjukan wayang kulit. Risalah Islam pun melebur dalam tembang-tembang Jawa yang dianggap lebih mudah diserap sebagai nilai kehidupan.

Bagaimana cara mempertahankan sebuah budaya tanpa membawa serta unsur ritualnya memang memiliki kesulitan tersendiri. Kebetulan pula, kesenian tradisi pada sejumlah daerah di Nusantara ini lebih menonjolkan gerakan tubuh. Dari gerakan ini lahir erotisme, yang bermuara pada semacam ekstase yang ditandai dengan memuncaknya hasrat lelaki terhadap objek yang disaksikannya.

Hal itu terjadi dalam kesenian ronggeng, tayuban, jaipong, dan tentu saja sintren. Bahkan, ada yang hanya mendengar suaranya saja, seorang lelaki bisa jatuh terpedaya, misalnya ketika kesengsem dengan alunan cengkok tembang seorang sinden. Dampak ini yang pasti akan berbenturan dengan nilai-nilai relijius dalam agama apa pun, terutama Islam. Kiranya ini akan menjadi tugas berat para budayawan untuk mencari jalan tengahnya.

Dalam novel Sintren, Widya menggambarkan bagaimana proses menjadi sintren itu berlangsung. Setidaknya buku ini memberikan literasi penting bagi pembaca dari wilayah budaya yang berbeda. Cerita yang bermula dari cerpen (ditulis tahun 1998, dan menjadi nominasi lomba cerpen nasional yang diselenggarakan oleh Diknas dan Creatif Writing Institute beberapa tahun berikutnya) ini dikembangkan, karena ada endapan memori dalam benak Widya. Sebagai pengarang, ia pernah mewawancara sintren dan orang-orang yang dekat dengan dunia itu. Sebelum menjadi buku, novel ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Republika.

Terus terang saya iri, sebagai sesama orang Jawa, tapi tidak memiliki penghayatan yang cukup untuk menulis karya yang menjunjung arus tradisi pada batang-tubuhnya. Padahal masa kecil saya habis di Yogya, Tegal, dan Semarang — wilayah yang kaya dengan unsur tradisi, unsur eksotisme. Terima kasih untuk Dianing Widya Yudhistira yang telah memperkaya sekaligus menggugah pikiran kreatif saya.

———–

Esei ini ditulis untuk launching novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira di Perpustakaan Daerah Banten, 24 Maret 2007.

Entry filed under: Berita Tentang Sintren. Tags: .

Sintren “Menari” di Perpustakaan Daerah Banten Apa itu Sintren? (1)

1 Komentar Add your own

  • 1. muslimah  |  April 16, 2007 pukul 8:32 pm

    Ya benar, berdasarkan riwayatnya salah satu metode penyebaran Islam ialah melalui pertunjukkan wayang kulit…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: