Tembang Penari Sintren

April 10, 2007 at 9:57 am 2 komentar

Sumber Berita: Koran Tempo, 27 Maret 2007

novel sintren

Mang cepaka putih.
Cepaka putih.
Kembang-kembang mbako. Kacamata abang ijo.
Sintren metu kembange ngrampyo.

Tembang itu terus mengalun berulang-ulang. Sinur memanggil-manggil Saraswati, tapi tidak ada sahutan. Hingga ia memberanikan dirinya masuk ke sebuah kamar berukuran kecil. Dilihatnya Saraswati di situ. Ia terbaring di atas dipan. Diam. Kedua tangannya bertumpu di atas pusarnya. Ia tampak semakin cantik.

Dianing Widya Yudhistira, pengarang novel Sintren, membacakan cuplikan novel itu di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten, Serang, Sabtu lalu. Di hadapan sekitar seratus orang yang memenuhi ruang perpustakaan yang disulap jadi tempat acara itu, ia meneruskan membacakan petikan drama hidup Saraswati tersebut.

Pembacaan cuplikan itu bagian dari peluncuran novel yang diadakan Komunitas Sastra Indonesia bekerja sama dengan penerbit Grasindo dan Perpustakaan Daerah Provinsi Banten. Acara dilanjutkan dengan bedah buku. Pembicaranya adalah sastrawan Kurnia Effendi dan Mohd. Wan Anwar, esais sastra yang sekaligus redaktur majalah sastra Horison.

Kurnia menilai novel Sintren dapat diposisikan sebagai karya sastra yang mengandung unsur eksotisme. Seperti halnya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, novel ini juga menggali realitas yang terjadi di tengah masyarakat di Jawa Tengah dengan mengambil tradisi yang paling menarik perhatian.

Melalui Sintren, Kurnia menambahkan, Dianing seperti hendak menunjukkan kepada kita bahwa pernah ada sejarah animisme dalam kehidupan masyarakat Nusantara di masa lalu. “Karena sintren (seperti juga ronggeng, tayub, reog, dan debus) tidak semata dikendalikan oleh kekuatan manusia biasa. Ada unsur kesaktian, supranatural, mistis, atau kekuatan yang tak kasatmata,” tutur Kurnia.

Sementara itu, Wan Anwar mengatakan, seperti Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, Sintren adalah tanda terakhir musnahnya budaya tradisi di daerah Batang, pantai utara Jawa Tengah, yang menjadi setting novel ini. Tapi ia menilai tokoh utama dalam novel ini, yakni Saraswati, tidak melakukan “pemberontakan besar” meskipun ia memiliki potensi untuk itu. l MUS

Entry filed under: Berita Tentang Sintren. Tags: .

Bintang yang Digilai dan Dicerca Novel Sintren Diluncurkan

2 Komentar Add your own

  • 1. endsu  |  April 12, 2007 pukul 9:35 am

    waaah selamat….selamat…
    novel anda sudah terbit
    maaf, belum sempat baca novelnya nih
    tapi
    dari acara2 launchingnya
    sepertinya novelnya rame

    moga2 novel ku ikut terbit juga yah
    mohon doanya
    -endsu-
    http://endangsutarti.blogspot com

    Balas
  • 2. ikakika  |  April 13, 2007 pukul 8:43 am

    Sama,,,saya belum baca juga…
    sintren juga ada di daerah saya, di indramayu, pesisir pantura. dulu saya sering mendengar, atau melihat pertunjukannya. tapi sayang, sekarang cuma jadi dongeng orang tua saja. untungnya, kadang di tiap kali ultah daerah, biasanya sintren dipertunjukkan…terakhir kali saya menonton sintren di anjungan jawa barat tmii.

    selalu, setiap kesenian tradisional tak pernah lepas dari tradisi mistis dan kadang sering dikaitkan dengan erotisme atau paling tidak mengarah pada tujuan menarik perhatian lawan jenis. apalagi, sintren dimainkan oleh seorang gadis belia, walaupun kadang juga laki-laki.

    sintren memang hidup dalam masyarakat pesisir, yang jarang tersentuh modernitas dan penghiburan diri macam orang kota. sintren hidup dan akan selalu hidup dalam kesederhanaan. dan kesederhanaan inilah yang tidak dimiliki oleh masyarakat kita sekarang. hingga akhirnya sintren yang sederhana itu tenggelam di tengah arus peng-kota-an masyarakat.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: