Sintren, Riwayatmu Kini…

DAMHURI MUHAMMAD

Sumber: KOMPAS, Senin, 30 Juli 2007

Bilamana tabiat para sastrawan hanya sekadar menjalankan laku mimetik dan
menggambarkan wajah realitas sebagaimana yang “tersurat” saja (bukan
tersirat), karya sastra tentu saja bakal segera menjemukan, lekas lapuk
dimakan waktu.

Lagi pula, laku peniruan sukar dipertanggungjawabkan sebagai kerja kreatif
yang selalu saja menyimpan obsesi-obsesi literer. Maka, pergulatan melahirkan
karya sastra semestinya bergeser dari sekadar tiru-meniru realitas menjadi
sebuah “ikhtiar” menciptakan realitas baru, bila perlu dengan cara meloncati
atau “melampaui” realitas usang, merangsek masuk ke lorong-lorong permenungan
yang tidak berhasil ditembus oleh para filsuf. (lagi…)

Add comment September 7, 2007

Sintren

banner-novel-sintren

Sumber: http://qyu.blogspot.com/2007/04/sintren.html

Ini adalah novel lokal karya Dianing Widya Yudhistira. Pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Republika sejak September 2004 hingga Februari 2005. Dan pada tahun 2007 ini diterbitkan dalam bentuk buku novel oleh Grasindo, dalam 295 halaman.

novel sintren

Sintren adalah suatu pertunjukan tari tradisional di daerah Batang, Jawa Tengah. Penarinya seorang wanita cantik dengan lenggak lenggok gemulai yang akan banyak memikat kaum lelaki untuk menyaksikannya. Mau tidak mau langsung terbayang trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan membanding2kannya. Tapi ternyata cerita ini tidaklah mencontek karya besar Ahmad Tohari tersebut. Profesi Sintren dan Ronggeng memang nyaris mirip, tapi ide cerita yang diangkat dalam kedua karya ini berbeda. (lagi…)

5 comments Mei 3, 2007

Novelis dalam Konteks Sastra Indonesia

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 April 2007

BERMUNCULANNYA para penulis baru dalam kancah sastra Tanah Air ditandai buku-buku terbaru karya-karya penulis anak negeri. Hal ini diharapkan dapat memacu perkembangan sastra Tanah Air yang lebih didominasi para pemula dengan berbagai ragam tema serta perkembangannya menuju teks sastra yang hidup.

Seperti pada novel Dianing W. Yudhistira didominasi tokoh Sasaswati yang mencoba digambarkannya sebagai gadis belia yang cerdas dari keluarga miskin. Gadis berusia 13 tahun itu gagal menikah dengan Kirman, anak dari juragan Wargo di kampungnya. Dalam hitungan Saraswati, terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk menjadi seorang sintren, agar dia bisa ikut membiayai sekolahnya. (lagi…)

1 comment April 29, 2007

Ternyata Sintren Pernah Diangkat ke Film

Ternyata kesenian Sintren pernah diangkat ke film. Soal ini sempat heboh pula. Saya baru menemukan berita tentang kehebohan film itu dari koran Suara Merdeka. Kehebohan pertama soal hak cipta. Komunitas Seniman Sinematografi (KSS) Kecamatan Larangan, Brebes, mengklaim film yang menceritakan kehidupan masyarakat Desa/Kecamatan Larangan tersebut adalah hasil karya atau hak cipta dari anggota KSS. Di lain pihak, Sindoro Multimedia Studio’s, yang membuat film ini, bersikukuh bahwa ini film bikinanna. Bagaimana peserteruan mereka? Simak kliping berita berikut: (lagi…)

6 comments April 19, 2007

Sintren dan Kisah Kasih Sulasih-Raden Sulandono

Sumber: www.batikmarkets.com/batik_pekalongan.php

Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, merupakan sebuah tarian yang berbau mistis / magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Raden Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Raden Sulandono adalah putra Ki Bahurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantansari.
Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso. Akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantansari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil rohnya untuk menemui Sulasih, maka terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono.
Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci (perawan), dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang. Pengembangan tari sintren sebagai hiburan rakyat, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan pelawak. ***

1 comment April 19, 2007

Apa itu Sintren (3-Habis)

Sumber: www.pekalongankab.go.id

ALAT MUSIK DAN TEMBANG PENGIRING

Pada awal munculnya kesenian sintren, alat musik yang digunakan untuk mengiringi adalah alat musik tetekan sebagai ritme dan melodi, bumbung besar (bambu dipotong) sebagai gong dan kendang.

Setelah alat musik gamelan membudaya di kalangan masyarakat, kesenian sintren tidak lagi menggunakan alat musik tetekan dan bumbung besar melainkan menggunakan instrumen gamelan khas laras slendro.

(lagi…)

2 comments April 19, 2007

Apa itu Sintren (2)

TAHAPAN MENJADI SINTREN

Sumber: www.pekalongankab.go.id

Tahapan menjadikan sintren dilakukan oleh Pawang dengan membawa calon penari sintren bersama dengan 4 (empat) orang pemain. Dayang sebagai lambang bidadari (Jawa: Widodari patang puluh) sebagai cantriknya Sintren. Kemudian Sintren didudukkan oleh Pawang dalam keadaan berpakain biasa dan didampingi para dayang/cantrik.

Pawang segera menjadikan penari sintren secara bertahap, melalui tiga tahap:

Tahap Pertama, pawang memegang kedua tangan calon penari sintren, kemudian diletakkan di atas asap kemenyan sambil mengucapkan mantra, selanjutnya calon penari sintren dengan tali melilit ke seluruh tubuh. (lagi…)

Add comment April 18, 2007

Apa itu Sintren? (1)

pertunjukan-sintren1

APA DAN BAGAIMANA KESENIAN SINTREN ITU?

Sumber: www.pekalongankab.go.id

Isian artikel kali ini akan memuat Deskripsi Kesenian Daerah “Sintren” yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Pekalongan. Artikel ini akan dimuat secara bersambung yang sumbernya diambil dari Buku Deskripsi Kesenian Daerah terbitan Pemerintah Kabupaten Pekalongan – Kantor Pariwisata dan Kebudayaan, beralamat di Jl. Alun-alun No.3 Kajen Telp. (0285) 381783 Pekalongan 51161.

Mengapa Bernama Sintren? (lagi…)

7 comments April 17, 2007

Eksotisme Lokal sebagai Kekuatan Novel

Kurnia Effendi
Cerpenis dan peneliti LPKP

Sumber: Republika, Minggu, 15 April 2007  

peluncuran-nvl-sintren-fotokef

Eksotisme selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati (dilihat, dirasakan, dihayati), juga untuk digarap. Kita acapkali memandang dengan nilai lebih pada karya-karya seni yang mengusung unsur eksotisme. Umumnya, unsur-unsur unik seperti itu menjadi kekuatan yang ditonjolkan oleh para kreator di jalur indie (independent).

Sebagai contoh, untuk Indonesia, karya-karya film Garin Nugroho — Puisi yang Tak Terkuburkan dan Opera Jawa — adalah film-film dengan nuansa eksotisme. Demikian pula dengan sastra, yang kerap disebut sebagai induk dari film dan seni peran, akan memiliki posisi tersendiri ketika mengangkat nilai-nilai eksotisme. Lalu, apakah eksotisme itu? (lagi…)

1 comment April 15, 2007

Sintren “Menari” di Perpustakaan Daerah Banten

Sumber: Tabloid PARLE, 5 April 2007
 
Apakah Banten dianggap sebagai wilayah yang memiliki kekayaan tradisi (dalam akar budaya islami) sehingga novel Sintren diluncurkan di sana? “Tujuan kami adalah untuk dapat menggairahkan kegiatan sastra di daerah,“ ujar Wowok Hesti Prabowo selaku ketua panitia, mewakili Komunitas Sastra Indonesia, sebagai penyelenggara acara.
Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira merupakan representasi tradisi dari tanah kelahiran pengarangnya (di Batang). Cerita ini bermula dari sebuah cerpen (1998) yang dikembangkan dan pernah menjadi cerita bersambung di harian Republika tahun 2005. Kini diterbitkan oleh Grasindo. Novel ini dipandang eksotik oleh Kurnia Effendi, salah satu pembicara dalam diskusi, sebagai jejak berharga untuk sebuah tradisi daerah yang mungkin nyaris punah. Dalam Sintren , sang pengarang agaknya mengajak pembacanya untuk mengingat kembali bahwa pernah di suatu masa, peradaban masyarakat Nusantara menganut paham animisme. Ada kekuatan supranatural yang bersifat magis dan mistis dalam proses menjadi Sintren.

Pembacaan petikan akhir novel oleh Widya, pengarangnya, mengawali acara launching yang dihadiri sekitar seratus orang terdiri dari siswa SMA lokal dan mahasiswa Untirta Banten. Lebih istimewa lagi, di ruang baca perpustakaan itu juga hadir sastrawan senior K. Usman. Dalam kesempatan itu, K. Usman mengatakan bahwa novel dengan muatan lokal tetap menarik sepanjang kreatif mengolahnya menjadi bacaan, apalagi jika dengan pandangan baru pengarangnya.

Moh. Wan Anwar, redaktur majalah sastra Horison yang juga menjadi pembicara diskusi, menyampaikan bahwa tradisi dalam novel ini menjadi berkah sekaligus masalah. Menurutnya, Widya telah melakukan hal penting dengan mengeksplorasi isi novel melalui posisi perempuan dalam kehidupan tradisi di daerah yang miskin. Sayangnya Saraswati, tokoh utama dalam Sintren, tidak melalukan pemberontakan.

Menjawab pertanyaan peserta diskusi, Widya menjelaskan tujuan ditulisnya novel Sintren , agar masyarakat (pembaca) diluar wilayah Jawa Tengah tahu tentang tradisi khas Batang. Sebenarnya Sintren juga ada di Brebes, Indramayu, dan daerah lain, tetapi memiliki sedikit perbedaan satu sama lain. “Tak bisa dengan cara lain kecuali berpromosi, bacalah novel itu,“ katanya dengan tertawa renyah.

Acara yang baru pertama kalinya diselenggarakan di perpustkaan Banten itu berlangsung hari Sabtu 24 Maret 2007 yang lalu, pada lepas tengah hari yang cerah. Wakil dari pihak tuan rumah mengharapkan kegiatan ini menjadi awal diskusi sastra selanjutnya, untuk memperkaya potensi daerah. (KE/ Parle )

link:
http://www.tabloidparle.com/news.php?go=fullnews&newsid=368

Add comment April 15, 2007

Next Posts Previous Posts


Categories

  • Blogroll

  • Feeds