<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jejak Sintren</title>
	<atom:link href="http://penarisintren.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penarisintren.wordpress.com</link>
	<description>Dianing Widya Yudhistira</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Nov 2009 13:27:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='penarisintren.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5001a01b76294b020f9eb8e389d2a1cb?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jejak Sintren</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://penarisintren.wordpress.com/osd.xml" title="Jejak Sintren" />
		<item>
		<title>Nama Saraswati</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/25/nama-saraswati/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/25/nama-saraswati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 13:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[DALAM perbincangan di RRI beberapa waktu lalu ada penanya dari Bali mengapa saya memilih nama Saraswati sebagai tokoh utama novel Sintren. Saya menjawab dalam dialog itu karena ketika menggarap novel Sintren nama yang muncul secara otomatis dalam benak saya adalah Saraswati. Saraswati sendiri berarti cerdas. Menurut penanya dari Bali itu, nama Saraswati merupakan dewi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=47&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>DALAM perbincangan di RRI beberapa waktu lalu ada penanya dari Bali mengapa saya memilih nama Saraswati sebagai tokoh utama novel Sintren. Saya menjawab dalam dialog itu karena ketika menggarap novel Sintren nama yang muncul secara otomatis dalam benak saya adalah Saraswati. Saraswati sendiri berarti cerdas. Menurut penanya dari Bali itu, nama Saraswati merupakan dewi yang menyayangi binatang. Dalam dialog itu dia juga berharap novel ini suatu ketika bisa difilmkan. Saya mengamini harapan pendengar RRI dari Bali itu. <span id="more-47"></span>Selanjutnya Saraswati menjadi tokoh sentral dari novel perdana saya itu. Sosok gadis desa yang memiliki semangat untuk sekolah tinggi, sementara dia sendiri berasal dari keluarga miskin. Kemiskinan tak membuatnya gentar untuk meraih cita-citanya bersekolah tinggi. Nasib kemudian membuatnya menjadi penari sintren demi meraih cita-citanya sekolah tinggi. Novel ini saya garap dengan semangat menghadirkan kekayaan budaya lokal, kemiskinan yang masih mendera di tengah masyarakat kita, juga pentingnya perempuan menjadi subyek dalam kehidupan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=47&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/25/nama-saraswati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diskriminasi Terhadap Perempuan</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/11/diskriminasi-terhadap-perempuan/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/11/diskriminasi-terhadap-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 12:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[DALAM masyarakat Jawa, perempuan seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang adil dalam beberapa hal, misalnya pendidikan. Perempuan Jawa seringkali harus mengalah dengan saudara laki-lakinya. Orangtua seringkali memprioritaskan pendidikan pada anak laki-laki ketimbang perempuan. Alasan mereka, toh pada akhirnya perempuan itu berada di rumah. Mengurus suami dan anak, jadi anak perempuan tak perlu sekolah tinggi.
Dari zaman saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=45&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>DALAM masyarakat Jawa, perempuan seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang adil dalam beberapa hal, misalnya pendidikan. Perempuan Jawa seringkali harus mengalah dengan saudara laki-lakinya. Orangtua seringkali memprioritaskan pendidikan pada anak laki-laki ketimbang perempuan. Alasan mereka, toh pada akhirnya perempuan itu berada di rumah. Mengurus suami dan anak, jadi anak perempuan tak perlu sekolah tinggi.<span id="more-45"></span></p>
<p>Dari zaman saya sekolah dasar, hingga sekarang paham seperti itu belum juga pupus. Perempuan tak perlu sekolah tinggi atau keluar rumah jauh-jauh untuk meraih impian. Novel Sintren, saya sajikan sebagai pendobrak dari kebuntuan perempuan terhadap diskriminasi yang menimpanya. Sosok Saraswati, biar pun dari keluarga miskin memiliki cita-cita tinggi. Ia ingin sekolah sampai ke perguruan tinggi.</p>
<p> Bisakah Saraswati meraih mimpinya?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=45&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/11/diskriminasi-terhadap-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghilangkan Kesenian Tradisional</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/01/menghilangkan-kesenian-tradisional/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/01/menghilangkan-kesenian-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 12:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[ Seorang pembaca novel Sintren mengeluh kepada saya, jika salah satu tarian yang dulu menjadi kebanggaan kampungnya sekarang hampir menghilang. Tari Jaipongan, begitu ujar teman saya itu, kurang diminati kaum remaja. Dia berharap masih ada generasi muda yang masih peduli dengan budaya bangsa yang sesungguhnya selalu eksotik. Tak berbeda dengan Jaipongan, nasib kesenian lokal yang berunsur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=43&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> Seorang pembaca novel Sintren mengeluh kepada saya, jika salah satu tarian yang dulu menjadi kebanggaan kampungnya sekarang hampir menghilang. Tari Jaipongan, begitu ujar teman saya itu, kurang diminati kaum remaja. Dia berharap masih ada generasi muda yang masih peduli dengan budaya bangsa yang sesungguhnya selalu eksotik. Tak berbeda dengan Jaipongan, nasib kesenian lokal yang berunsur magis, Sintren bisa saya pastikan telah punah di kabupaten Batang. Tarian yang membentang sepanjang pantura ini masih bisa dinikmati oleh warga Cirebon.<span id="more-43"></span> Di Batang, tanah kelahiranku Sintren terakhir kali saya lihat ketika saya duduk di kelas empat SD. Sejak itu Sintren jarang dipentaskan, hingga adik-adik saya tidak tahu persis Sintren itu seperti apa. Terkadang saya ingin kembali membangkitkan tarian Sintren. Saya kadang bermimpi ada pawing atau pencari Sintren, yang bisa menghidupkan kembali salah satu kekayaan budaya yang pernah kami miliki. Entah ini hanya impian atau suatu ketika Sintren hidup lagi di Batang.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=43&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/11/01/menghilangkan-kesenian-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sintren, Tarian Beraroma Magis</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/21/sintren-tarian-beraroma-magis/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/21/sintren-tarian-beraroma-magis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 04:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[ADA seorang pembaca dari luar Jawa, menanyakan tarian sintren itu seperti apa. Saya mencoba menjawabnya sejelas mungkin. Untuk menjadi penari Sintren, seorang gadis harus melewati semacam ujian, apakah dia mampu untuk menjadi sintren atau tidak. Bagi gadis yang tak mampu menjadi penari Sintren, saat diuji oleh pawang sintren, biasanya akan menjerit-jerit minta tolong atau pingsan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=41&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>ADA seorang pembaca dari luar Jawa, menanyakan tarian sintren itu seperti apa. Saya mencoba menjawabnya sejelas mungkin. Untuk menjadi penari Sintren, seorang gadis harus melewati semacam ujian, apakah dia mampu untuk menjadi sintren atau tidak. Bagi gadis yang tak mampu menjadi penari Sintren, saat diuji oleh pawang sintren, biasanya akan menjerit-jerit minta tolong atau pingsan. Biasanya sang gadis disuruh duduk di atas kursi kecil, atau dingklik dengan ditutupi sangkar ayam. Sebaliknya bagi gadis yang tenang-tenang saja saat diuji, tidak menjerit atau berteriak apalagi pingsan, artinya dia lolos. Saya pernah mewawancarai sintren yang gagal, mengakui saat itu melihat katak teramat besar.<span id="more-41"></span> Gadis yang akan menari pertama-tama didandani dengan memakai kain jarik dan kebaya, lalu dimasukkan ke dalam karung, diikat kuat-kuat, lalu ditutup dengan sangkar ayam. Setelah ditutup, para panjak atau pengiring lagu-lagu dalam sintren berdendang. Dalam waktu sangat singkat sangkar dibuka. Saat dibuka itulah Sintren sudah berganti busana dan dandanan, tak ketinggalan kacamata hitam dalam ukuran besar.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=41&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/21/sintren-tarian-beraroma-magis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesulitan Dalam Wawancara</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/13/kesulitan-dalam-wawancara/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/13/kesulitan-dalam-wawancara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 13:42:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[SAYA mengawali penggarapan Sintren dengan berbagai wawancara, baik langsung ke pelaku Sintren, juga Pawang  Sintren, Para Panjak dan pemilik seperangkat musik untuk pertunjukkan Sintren.
Dalam wawancara itu saya ditemani bulek saya juga almarhum bapak. Sayang, bapak pergi sebelum bisa menikmati karya saya. Sintren merupakan novel perdana saya, yang semula ingin saya tunjukkan pada bapak. Ini lho [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=37&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SAYA mengawali penggarapan Sintren dengan berbagai wawancara, baik langsung ke pelaku Sintren, juga Pawang  Sintren, Para Panjak dan pemilik seperangkat musik untuk pertunjukkan Sintren.</p>
<p>Dalam wawancara itu saya ditemani bulek saya juga almarhum bapak. Sayang, bapak pergi sebelum bisa menikmati karya saya. Sintren merupakan novel perdana saya, yang semula ingin saya tunjukkan pada bapak. Ini lho Pak, karya saya. Karena pada awalnya almarhum bapak tak mendukung saya menjadi penulis. Bapak lebih suka saya berdagang, meneruskan usahanya. Dulu, kami sering berselisih paham hingga akhirnya, bapak merestui saya menulis setelah saya mampu membeli seperangkat televisi, dari honorarium cerpen saya yang dimuat di majalah terbitan Brunei Darussalam.<span id="more-37"></span></p>
<p>Kembali ke novel Sintren. Saya menemui kesulitan ketika saya mewawancarai ibu-ibu yang dulu adalah Panjak atau orang yang menyanyi dalam pertunjukkan Sintren. Rata-rata saat itu usia mereka di atas tujuhpuluh tahun, jadi mereka sudah lupa-lupa ingat. Untung salah satu panjak itu masih ibunya teman saya, yang menjadi Sintren. Dia memang yang banyak membantu saya.</p>
<p>Selain wawancara langsung ke pelaku Sintren, saya juga menggali informasi dari Mbah Darnah, nenek saya dari pihak ibu. Adegan pernikahan bador dan panjak dalam novel Sintren, merupakan bagian kisah nyata di masa muda nenek saya.</p>
<p>Novel ini tanpa saya duga masuk lima besar dalam Khatulistiwa Literary Award 2007 bersama Cok Sawitri, Andrea Hirata, dan Gus TF Sakai. Satunya lagi saya lupa. Pemenangnya dengan sangat legowo saya terima. Mas Gus TF Sakai, yang cerpen-cerpennya saya gandrungi..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=37&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/13/kesulitan-dalam-wawancara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tokoh Sintren</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/12/tokoh-sintren/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/12/tokoh-sintren/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 12:22:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/12/tokoh-sintren/</guid>
		<description><![CDATA[ BERMULA dari ucapan Abang, begitu saya memanggil suami agar saya memulai saja menulis novel. “Kembangkan saja cerpen Sintren,” begitu ucapnya. Saya jadi terusik untuk mengangkat Sintren, salah satu tarian yang dulu sering dipertunjukkan menjelang tujuhbelasan di kampung saya, Batang. Sintren merupakan kenangan masa kanak-kanak saya. Saya suka melihat pertunjukkan itu meski tak sampai selesai. Waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=36&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> BERMULA dari ucapan Abang, begitu saya memanggil suami agar saya memulai saja menulis novel. “Kembangkan saja cerpen Sintren,” begitu ucapnya. Saya jadi terusik untuk mengangkat Sintren, salah satu tarian yang dulu sering dipertunjukkan menjelang tujuhbelasan di kampung saya, Batang. Sintren merupakan kenangan masa kanak-kanak saya. Saya suka melihat pertunjukkan itu meski tak sampai selesai. Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pertunjukkan sintren biasanya dimulai pukul sembilan malam, di tanah lapang. Makanya saya sering pulang terlebih dulu karena anak perempuan tabu bagi masyarakat kami, jika malam masih diluar rumah.<span id="more-36"></span> Untuk mendapatkan ruh cerita, saya tak hanya mengandalkan ingatan di masa kecil. Saya juga melakukan wawancara langsung dengan penari Sintren sungguhan. Kebetulan dia teman saya satu angkatan, juga sekolah di kompleks SDN Kasepuhan. Hanya saja dia sekolah di SDN V. Kami sudah saling kenal. Maka wawancara pun berjalan lancar. Ada yang menarik, ketika saya tanya apakah kelak, bila ada yang mengajak anak perempuannya menjadi Sintren, ia mengizinkan? Dengan tegas dia menggeleng. Entah apa maksudnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=36&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/12/tokoh-sintren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Sebuah Cerpen</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/07/dari-sebuah-cerpen-2/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/07/dari-sebuah-cerpen-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:18:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[ NOVEL Sintren bermula dari sebuah cerpen yang saya tulis dengan niat mengirimkannya ke harian Republika. Waktu itu saya sedang berada di Batang. Sebuah harian nasional menarik perhatian saya dan membacanya di rubrik budaya. Di situ terdapat seorang seniman yang melestrikan salah satu budaya lokal. Seingatku bukanlah sintren, tetapi saat itu pikiran saya tergerak untuk menulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=33&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> NOVEL Sintren bermula dari sebuah cerpen yang saya tulis dengan niat mengirimkannya ke harian Republika. Waktu itu saya sedang berada di Batang. Sebuah harian nasional menarik perhatian saya dan membacanya di rubrik budaya. Di situ terdapat seorang seniman yang melestrikan salah satu budaya lokal. Seingatku bukanlah sintren, tetapi saat itu pikiran saya tergerak untuk menulis tentang sintren. Cerpen Sintren saya buat dalam waktu singkat dan saya langsung mengirimkannya ke Republika. Dalam hitungan minggu cerpen itu dimuat di harian yang sama di bulan Oktober 1998. <span id="more-33"></span>Saya menulis puisi, cerpen, juga laporan jurnalistik sejak 1992. Tak ada target tahun berapa saya akan menulis sebuah novel, hanya saja beberapa nama membuat saya terinpirasi untuk menulis novel. Di tahun 2004 saya mencoba mulai menulis novel dengan dukungan suami, bahkan untuk mengangkat Sintren dalam novel pun dari perbincangan kami. Semula saya belum terpikir untuk menulis Sintren. Pikir saya boleh juga nih Sintren di angkat ke novel. Novel itu selesai di tahun 2004 dan dimuat secara bersambung di harian Republika di tahun yang sama. Tahun 2007 diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Grasindo, tanpa saya duga masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award. Tidak menyangka juga banyak mahasiswa dan mahasiwi meminta izin atau mengabari bahwa Sintren dijadikan obyek kajian untuk skripsi. Tentu ini kehormatan besar buat saya, dan semangat untuk terus menulis.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=33&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/07/dari-sebuah-cerpen-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Sebuah Cerpen</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/06/dari-sebuah-cerpen/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/06/dari-sebuah-cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 13:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[ NOVEL Sintren bermula dari sebuah cerpen yang saya tulis dengan niat mengirimkannya ke harian Republika. Waktu itu saya sedang berada di Batang. Sebuah harian nasional menarik perhatian saya dan membacanya di rubrik budaya. Di situ terdapat seorang seniman yang melestrikan salah satu budaya lokal. Seingatku bukanlah sintren, tetapi saat itu pikiran saya tergerak untuk menulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=31&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> NOVEL Sintren bermula dari sebuah cerpen yang saya tulis dengan niat mengirimkannya ke harian Republika. Waktu itu saya sedang berada di Batang. Sebuah harian nasional menarik perhatian saya dan membacanya di rubrik budaya. Di situ terdapat seorang seniman yang melestrikan salah satu budaya lokal. Seingatku bukanlah sintren, tetapi saat itu pikiran saya tergerak untuk menulis tentang sintren. Cerpen Sintren saya buat dalam waktu singkat dan saya langsung mengirimkannya ke Republika. Dalam hitungan minggu cerpen itu dimuat di harian yang sama di bulan Oktober 1998.<span id="more-31"></span> Saya menulis puisi, cerpen, juga laporan jurnalistik sejak 1992. Tak ada target tahun berapa saya akan menulis sebuah novel, hanya saja beberapa nama membuat saya terinpirasi untuk menulis novel. Di tahun 2004 saya mencoba mulai menulis novel dengan dukungan suami, bahkan untuk mengangkat Sintren dalam novel pun dari perbincangan kami. Semula saya belum terpikir untuk menulis Sintren. Pikir saya boleh juga nih Sintren di angkat ke novel. Novel itu selesai di tahun 2004 dan dimuat secara bersambung di harian Republika di tahun yang sama. Tahun 2007 diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Grasindo, tanpa saya duga masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award. Tidak menyangka juga banyak mahasiswa dan mahasiwi meminta izin atau mengabari bahwa Sintren dijadikan obyek kajian untuk skripsi. Tentu ini kehormatan besar buat saya, dan semangat untuk terus menulis.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=31&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/06/dari-sebuah-cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkunjung ke Sekolah Saraswati dan Nawang</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/03/berkunjung-ke-sekolah-saraswati-dan-nawang/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/03/berkunjung-ke-sekolah-saraswati-dan-nawang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 05:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[BATANG, kota ini mengental dalam kesadaranku saat jauh di Jakarta. Aku justru bisa menumpahkan Batang yang eksotik dengan bentangan sawah, kibasan sayap itik di tepi Kali, juga lenguhan khas kerbau.
Saat mudik lebaran kemarin, malam hari aku bersama suami, anak-anak dan Dian, adik bungsu, berencana cari makan keluar. Kami belum tahu mau makan di Alun-alun Batang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=25&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>BATANG, kota ini mengental dalam kesadaranku saat jauh di Jakarta. Aku justru bisa menumpahkan Batang yang eksotik dengan bentangan sawah, kibasan sayap itik di tepi Kali, juga lenguhan khas kerbau.<br />
Saat mudik lebaran kemarin, malam hari aku bersama suami, anak-anak dan Dian, adik bungsu, berencana cari makan keluar. Kami belum tahu mau makan di Alun-alun Batang, atau cari Tauto ke Pekalongan. Akhirnya mobil berjalan begitu saja, mulanya kami lewat Teratai Lor, di jalan Yos Sudarso, jalan menuju pantai Batang. Kami belok kiri. Di Teratai Lor ini banyak famili tinggal, tetapi kami tak singgah, mengingat malam hari. Kurang enak.<span id="more-25"></span><br />
Akhirnya mobil melewati kawasan Kebanyon,  inilah kawasan yang senantiasa menggetarkan , mobil merambat melalui Atas Angin, dulu orang-orang kampung tak ada yang berani lewat sini, angker. Di sisi kanan adalah bentangan sawah, sedang di kiri bentangan Kali. Kali inilah tempat Nawang menikmati kerbau yang sedang dimandikan saat menuju atau pulang sekolah.<br />
Tak jauh di sebelah kanan sana adalah kompleks sekolah dasar Kasepuhan, di situlah Nawang (NAWANG) juga Saraswati (SINTREN) bersekolah. Tepatnya SDN Kasepuhan II, dimana aku menikmati masa kanak-kanak. Inilah tempat aku bersekolah.<br />
“Itu sekolah Nawang,” tunjukku pada Fira, sisulung yang mulai gemar menulis.<br />
“Ya sudah kita lihat SD Bunda,” ajak Dian.<br />
“Boleh tuh,” ujar suami bersemangat.<br />
Malam itu mobil segera menuju ke sekolah dasar Kasepuhan II. Memang sih setiap kali aku pulang ke Batang, tak pernah luput. Sekolah ini selalu aku kunjungi. Biasanya pagi hari, tapi tanpa direncana malam itu aku, suami yang orang Aceh, juga anak-anak menyaksikan sekolah bunda dulu.<br />
Sampai di depan sekolah yang bangunannya sudah banyak direnovasi, aku mencoba mengambil gambar, tetapi lebih banyak mengenang masa-masa lalu. Tapi karena malam, hanya plang sekolah yang kelihatan.<br />
“Ini  sekolah Nawang, juga Saraswati,” ujar Fira antusias.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=25&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/03/berkunjung-ke-sekolah-saraswati-dan-nawang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Masa Kanak-kanak</title>
		<link>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/01/kenangan-masa-kanak-kanak/</link>
		<comments>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/01/kenangan-masa-kanak-kanak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 04:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penarisintren</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dibalik Novel SINTREN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penarisintren.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[SEMALAM ketika saya sedang menulis, melintas tetangga saya. Mbah, begitu saya suka menyapa. Disamping memang usianya yang jauh lebih tua, beliau termasuk yang dituakan. Pensiunan guru di Biak itu, termasuk tetangga yang suka bertukar pikiran dengan saya. Saya yang sedang menyelesaikan novel, nggak enak ketika melihat beliau duduk di teras. Malam hari saya suka pindah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=23&subd=penarisintren&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SEMALAM ketika saya sedang menulis, melintas tetangga saya. Mbah, begitu saya suka menyapa. Disamping memang usianya yang jauh lebih tua, beliau termasuk yang dituakan. Pensiunan guru di Biak itu, termasuk tetangga yang suka bertukar pikiran dengan saya. Saya yang sedang menyelesaikan novel, nggak enak ketika melihat beliau duduk di teras. Malam hari saya suka pindah ke ruang depan untuk menulis, sambil menemani anak-anak belajar juga sibungsu bermain. Akhirnya saya beranjak dari komputer, menemui mbah dan ngobrol sejenak. Akhirya obrolan sampai ke novel Sintren, yang terbit 2007 lalu. <span id="more-23"></span>Mbah bercerita kalau dulu semasa kecil sering nonton sintren. Perempuan muda yang mengenakan kebaya dan diikat tubuhnya, lalu dimasukkan ke dalam sangkar ayam. Setelah panjak bernyanyi, tak lama sangkar dibuka. Karena kekuatan magislah dalam waktu sejenak si penari sintren sudah tak terikat lagi, bahkan sudah berganti baju. Mbah bertanya apakah hal itu sama dengan yang di Batang. Mbah berasal dari Tegal, konon karena terpesona dengan Soekarno atau Bung Karno, mbah sukarela datang ke Irian Jaya untuk menjadi relawan merebut kembali Irian Jaya. Hingga akhirnya beliau mengajar di Biak. Saya ceritakan pada mbah, terakhir saya melihat pertunjukan sintren ketika kelas empat SD. Sejak itu sintren sudah jarang dipertunjukkan, apalagi untuk sekarang. Sintren benar-benar sudah menghilang dari Batang, tertutama di kabupatennya. Sintren sendiri merupakan novel perdana saya, yang penggarapannya melibatkan serpihan masa kanak-kanak saya. Tanpa saya duga, masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penarisintren.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penarisintren.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penarisintren.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penarisintren.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penarisintren.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penarisintren.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penarisintren.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penarisintren.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penarisintren.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penarisintren.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penarisintren.wordpress.com&blog=966788&post=23&subd=penarisintren&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penarisintren.wordpress.com/2009/10/01/kenangan-masa-kanak-kanak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d4db39a87b5de94a880a71b4a72c382?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">penarisintren</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>