Posts filed under 'Berita Tentang Sintren'

Sintren

banner-novel-sintren

Sumber: http://qyu.blogspot.com/2007/04/sintren.html

Ini adalah novel lokal karya Dianing Widya Yudhistira. Pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Republika sejak September 2004 hingga Februari 2005. Dan pada tahun 2007 ini diterbitkan dalam bentuk buku novel oleh Grasindo, dalam 295 halaman.

novel sintren

Sintren adalah suatu pertunjukan tari tradisional di daerah Batang, Jawa Tengah. Penarinya seorang wanita cantik dengan lenggak lenggok gemulai yang akan banyak memikat kaum lelaki untuk menyaksikannya. Mau tidak mau langsung terbayang trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan membanding2kannya. Tapi ternyata cerita ini tidaklah mencontek karya besar Ahmad Tohari tersebut. Profesi Sintren dan Ronggeng memang nyaris mirip, tapi ide cerita yang diangkat dalam kedua karya ini berbeda. (lagi…)

5 comments Mei 3, 2007

Novelis dalam Konteks Sastra Indonesia

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 April 2007

BERMUNCULANNYA para penulis baru dalam kancah sastra Tanah Air ditandai buku-buku terbaru karya-karya penulis anak negeri. Hal ini diharapkan dapat memacu perkembangan sastra Tanah Air yang lebih didominasi para pemula dengan berbagai ragam tema serta perkembangannya menuju teks sastra yang hidup.

Seperti pada novel Dianing W. Yudhistira didominasi tokoh Sasaswati yang mencoba digambarkannya sebagai gadis belia yang cerdas dari keluarga miskin. Gadis berusia 13 tahun itu gagal menikah dengan Kirman, anak dari juragan Wargo di kampungnya. Dalam hitungan Saraswati, terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk menjadi seorang sintren, agar dia bisa ikut membiayai sekolahnya. (lagi…)

1 comment April 29, 2007

Eksotisme Lokal sebagai Kekuatan Novel

Kurnia Effendi
Cerpenis dan peneliti LPKP

Sumber: Republika, Minggu, 15 April 2007  

peluncuran-nvl-sintren-fotokef

Eksotisme selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati (dilihat, dirasakan, dihayati), juga untuk digarap. Kita acapkali memandang dengan nilai lebih pada karya-karya seni yang mengusung unsur eksotisme. Umumnya, unsur-unsur unik seperti itu menjadi kekuatan yang ditonjolkan oleh para kreator di jalur indie (independent).

Sebagai contoh, untuk Indonesia, karya-karya film Garin Nugroho — Puisi yang Tak Terkuburkan dan Opera Jawa — adalah film-film dengan nuansa eksotisme. Demikian pula dengan sastra, yang kerap disebut sebagai induk dari film dan seni peran, akan memiliki posisi tersendiri ketika mengangkat nilai-nilai eksotisme. Lalu, apakah eksotisme itu? (lagi…)

1 comment April 15, 2007

Sintren “Menari” di Perpustakaan Daerah Banten

Sumber: Tabloid PARLE, 5 April 2007
 
Apakah Banten dianggap sebagai wilayah yang memiliki kekayaan tradisi (dalam akar budaya islami) sehingga novel Sintren diluncurkan di sana? “Tujuan kami adalah untuk dapat menggairahkan kegiatan sastra di daerah,“ ujar Wowok Hesti Prabowo selaku ketua panitia, mewakili Komunitas Sastra Indonesia, sebagai penyelenggara acara.
Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira merupakan representasi tradisi dari tanah kelahiran pengarangnya (di Batang). Cerita ini bermula dari sebuah cerpen (1998) yang dikembangkan dan pernah menjadi cerita bersambung di harian Republika tahun 2005. Kini diterbitkan oleh Grasindo. Novel ini dipandang eksotik oleh Kurnia Effendi, salah satu pembicara dalam diskusi, sebagai jejak berharga untuk sebuah tradisi daerah yang mungkin nyaris punah. Dalam Sintren , sang pengarang agaknya mengajak pembacanya untuk mengingat kembali bahwa pernah di suatu masa, peradaban masyarakat Nusantara menganut paham animisme. Ada kekuatan supranatural yang bersifat magis dan mistis dalam proses menjadi Sintren.

Pembacaan petikan akhir novel oleh Widya, pengarangnya, mengawali acara launching yang dihadiri sekitar seratus orang terdiri dari siswa SMA lokal dan mahasiswa Untirta Banten. Lebih istimewa lagi, di ruang baca perpustakaan itu juga hadir sastrawan senior K. Usman. Dalam kesempatan itu, K. Usman mengatakan bahwa novel dengan muatan lokal tetap menarik sepanjang kreatif mengolahnya menjadi bacaan, apalagi jika dengan pandangan baru pengarangnya.

Moh. Wan Anwar, redaktur majalah sastra Horison yang juga menjadi pembicara diskusi, menyampaikan bahwa tradisi dalam novel ini menjadi berkah sekaligus masalah. Menurutnya, Widya telah melakukan hal penting dengan mengeksplorasi isi novel melalui posisi perempuan dalam kehidupan tradisi di daerah yang miskin. Sayangnya Saraswati, tokoh utama dalam Sintren, tidak melalukan pemberontakan.

Menjawab pertanyaan peserta diskusi, Widya menjelaskan tujuan ditulisnya novel Sintren , agar masyarakat (pembaca) diluar wilayah Jawa Tengah tahu tentang tradisi khas Batang. Sebenarnya Sintren juga ada di Brebes, Indramayu, dan daerah lain, tetapi memiliki sedikit perbedaan satu sama lain. “Tak bisa dengan cara lain kecuali berpromosi, bacalah novel itu,“ katanya dengan tertawa renyah.

Acara yang baru pertama kalinya diselenggarakan di perpustkaan Banten itu berlangsung hari Sabtu 24 Maret 2007 yang lalu, pada lepas tengah hari yang cerah. Wakil dari pihak tuan rumah mengharapkan kegiatan ini menjadi awal diskusi sastra selanjutnya, untuk memperkaya potensi daerah. (KE/ Parle )

link:
http://www.tabloidparle.com/news.php?go=fullnews&newsid=368

Add comment April 15, 2007

Novel Sintren Diluncurkan

Sumber: Republika 1 April 2007 

Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira diluncurkan di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten, Jl Saleh Baimin 6 Serang, Sabtu 24 Maret 2007 lalu. Acara ini hasil kerjasama Komunitas Sastra Indonesia Cabang Banten, Perpustakaan Banten dan Penerbit Grasindo. Pada sesi diskusi, novel yang pernah dimuat bersambung di Harian Republika itu dibahas oleh Kurnia Effendi dan Moh Wan Anwar dengan moderator Binhad Nurohmat.

Menurut ketua panitia, Wowok Hesti Prabowo, Banten dipilih sebagai tempat peluncuran buku ini dimaksudkan untuk lebih menggairahkan geliat sastra di daerah itu. Selain itu, kata Ketua KSI Cabang Banten Gito Waluyo, juga untuk merangsang krativitas para penulis fiksi Banten agar lebih produktif.

Add comment April 15, 2007

Tembang Penari Sintren

Sumber Berita: Koran Tempo, 27 Maret 2007

novel sintren

Mang cepaka putih.
Cepaka putih.
Kembang-kembang mbako. Kacamata abang ijo.
Sintren metu kembange ngrampyo.

Tembang itu terus mengalun berulang-ulang. Sinur memanggil-manggil Saraswati, tapi tidak ada sahutan. Hingga ia memberanikan dirinya masuk ke sebuah kamar berukuran kecil. Dilihatnya Saraswati di situ. Ia terbaring di atas dipan. Diam. Kedua tangannya bertumpu di atas pusarnya. Ia tampak semakin cantik.

Dianing Widya Yudhistira, pengarang novel Sintren, membacakan cuplikan novel itu di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten, Serang, Sabtu lalu. Di hadapan sekitar seratus orang yang memenuhi ruang perpustakaan yang disulap jadi tempat acara itu, ia meneruskan membacakan petikan drama hidup Saraswati tersebut.

Pembacaan cuplikan itu bagian dari peluncuran novel yang diadakan Komunitas Sastra Indonesia bekerja sama dengan penerbit Grasindo dan Perpustakaan Daerah Provinsi Banten. Acara dilanjutkan dengan bedah buku. Pembicaranya adalah sastrawan Kurnia Effendi dan Mohd. Wan Anwar, esais sastra yang sekaligus redaktur majalah sastra Horison.

Kurnia menilai novel Sintren dapat diposisikan sebagai karya sastra yang mengandung unsur eksotisme. Seperti halnya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, novel ini juga menggali realitas yang terjadi di tengah masyarakat di Jawa Tengah dengan mengambil tradisi yang paling menarik perhatian.

Melalui Sintren, Kurnia menambahkan, Dianing seperti hendak menunjukkan kepada kita bahwa pernah ada sejarah animisme dalam kehidupan masyarakat Nusantara di masa lalu. “Karena sintren (seperti juga ronggeng, tayub, reog, dan debus) tidak semata dikendalikan oleh kekuatan manusia biasa. Ada unsur kesaktian, supranatural, mistis, atau kekuatan yang tak kasatmata,” tutur Kurnia.

Sementara itu, Wan Anwar mengatakan, seperti Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, Sintren adalah tanda terakhir musnahnya budaya tradisi di daerah Batang, pantai utara Jawa Tengah, yang menjadi setting novel ini. Tapi ia menilai tokoh utama dalam novel ini, yakni Saraswati, tidak melakukan “pemberontakan besar” meskipun ia memiliki potensi untuk itu. l MUS

2 comments April 10, 2007

Bintang yang Digilai dan Dicerca

————–
Sumber berita:
Suara Pembaruan, 1 April 2007
————–

Judul Buku: Sintren
Penulis: Dianing Widya Yudhistira
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: 2007
Tebal: 295 halaman

Saraswati, seorang murid cerdas dari keluarga miskin, terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk menjadi seorang sintren, karena gagal menikah dengan kirman, anak juragan Wargo. Dalam hitungan, Saraswati, dengan menjadi sintren dirinya bisa ikut membiayai sekolahnya.

Apa lacur yang terjadi justru ia menerima cercaan dari lingkungannya. Meski usianya baru 13 tahun, semenjak menjadi sintren, Saraswati semakin menunjukkan pesonanya sebagai pujaan lelaki-baik yang bujangan maupun yang sudah beristri; dari segala lapis-an dan golongan-sehingga ia menjadi pusat hinaan kaum istri.

Saraswati juga menyebabkan seorang gurunya, Ibu Kartika, memilih mengakhiri hidupnya karena tak bisa menerima kenyataan mantan kekasihnya menjadi gila lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan pada Saraswati.

Sintren Saraswati benar-benar bak bintang yang sedang bersinar terang. Tetapi, mengapa akhirnya ia hanya bersedia menerima lamaran duda tua-yang tak sempat menyentuhnya karena keburu meninggal? Pun, ketika ia memutuskan menikah lagi, mengapa suami-suami berikutnya juga menemui nasib serupa, meninggal dalam hitungan sehari setelah masa pernikahan? Apa penyebabnya dan mengapa pula kemarahan kaum istri memuncak hingga berniat membakar rumahnya? Dianing Widya Yudhistira, pengarang yang produktif mencipta puisi dan cerita pendek, menceritakannya dengan gaya bahasa lisan yang sangat memikat. [Lenny, mahasiswa STT Jaffray]

link:
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/01/index.html

2 comments April 9, 2007

Peluncuran Novel di Banten

————-
Sumber berita:
Kompas, Jumat, 23 Maret 2007
—————

Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira akan diluncurkan di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten, Jalan Saleh Baimin No 6 Serang, Sabtu (24/3) pukul 13.00 WIB. Acara ini hasil kerja sama Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Banten, Perpustakaan Banten, dan penerbit Grasindo. “Banten dipilih sebagai tempat peluncuran buku ini dimaksudkan untuk lebih menggairahkan geliat sastra di daerah itu,” kata Gito Waluyp, Ketua KSI Cabang Banten. Wowok Hesti Prabowo, ketua panitia acara itu, menambahkan bahwa peluncuran novel yang bertolak dari khazanah lokal di Jawa tersebut akan dihangatkan dengan diskusi, menghadirkan sastrawan Kurnia Effendi dan Moh Wan Anwar. (*/ken)

Link:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/23/humaniora/3402012.htm

——————-

Saya sedang membaca petikan novel Sintren itu:

Kurnia Effendi

Add comment April 9, 2007

Novel Sintren Diluncurkan di Serang

JAKARTA- Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira akan diluncurkan di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten, Jalan Saleh Baimin Nomor 6, Serang, besok pukul 13.00 WIB. “Banten dipilih sebagai tempat peluncuran buku itu dimaksudkan untuk lebih menggairahkan geliat sastra di daerah ini,” kata Ketua Komunitas Sastra Indonesia Cabang Banten Gito Waluyo.

Acara ini hasil kerja sama KSI Cabang Banten, Perpustakaan Daerah Banten, dan penerbit Grasindo. Peluncuran itu akan dimeriahkan dengan acara diskusi. Tampil sebagai pembicara sastrawan Kurnia Effendi dan Redaktur Majalah Sastra Horison Mohd. Wan Anwar.

Menurut Wowok Hesti Prabowo, panitia acara ini, novel Sintren, yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di sebuah harian nasional, mengisahkan drama hidup seorang penari sintren bernama Saraswati. Sejak menjadi sintren, gadis cantik ini makin menunjukkan pesonanya sebagai pujaan para lelaki, tua-muda, baik yang bujangan maupun yang sudah beristri.

“Perjalanan hidup sintren ini digambarkan dengan sangat dramatis,” tutur Wowok yang juga dikenal sebagai tokoh penyair buruh ini. Cerita dalam novel ini, ia menambahkan, mengambil setting di Batang, Jawa Tengah, tempat kelahiran penulis novel yang cukup produktif tersebut. l AYU CIPTA

Sumber:
Koran Tempo, 23 Maret 2007

————————

Inilah foto peluncuran itu:

Kurnia Effendi

1 comment April 9, 2007


Calendar

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Posts by Month

Posts by Category