Archive for November, 2009
Nama Saraswati
DALAM perbincangan di RRI beberapa waktu lalu ada penanya dari Bali mengapa saya memilih nama Saraswati sebagai tokoh utama novel Sintren. Saya menjawab dalam dialog itu karena ketika menggarap novel Sintren nama yang muncul secara otomatis dalam benak saya adalah Saraswati. Saraswati sendiri berarti cerdas. Menurut penanya dari Bali itu, nama Saraswati merupakan dewi yang menyayangi binatang. Dalam dialog itu dia juga berharap novel ini suatu ketika bisa difilmkan. Saya mengamini harapan pendengar RRI dari Bali itu. (lagi…)
Diskriminasi Terhadap Perempuan
DALAM masyarakat Jawa, perempuan seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang adil dalam beberapa hal, misalnya pendidikan. Perempuan Jawa seringkali harus mengalah dengan saudara laki-lakinya. Orangtua seringkali memprioritaskan pendidikan pada anak laki-laki ketimbang perempuan. Alasan mereka, toh pada akhirnya perempuan itu berada di rumah. Mengurus suami dan anak, jadi anak perempuan tak perlu sekolah tinggi. (lagi…)
Menghilangkan Kesenian Tradisional
Seorang pembaca novel Sintren mengeluh kepada saya, jika salah satu tarian yang dulu menjadi kebanggaan kampungnya sekarang hampir menghilang. Tari Jaipongan, begitu ujar teman saya itu, kurang diminati kaum remaja. Dia berharap masih ada generasi muda yang masih peduli dengan budaya bangsa yang sesungguhnya selalu eksotik. Tak berbeda dengan Jaipongan, nasib kesenian lokal yang berunsur magis, Sintren bisa saya pastikan telah punah di kabupaten Batang. Tarian yang membentang sepanjang pantura ini masih bisa dinikmati oleh warga Cirebon. (lagi…)