Tokoh Sintren
Oktober 12, 2009
BERMULA dari ucapan Abang, begitu saya memanggil suami agar saya memulai saja menulis novel. “Kembangkan saja cerpen Sintren,” begitu ucapnya. Saya jadi terusik untuk mengangkat Sintren, salah satu tarian yang dulu sering dipertunjukkan menjelang tujuhbelasan di kampung saya, Batang. Sintren merupakan kenangan masa kanak-kanak saya. Saya suka melihat pertunjukkan itu meski tak sampai selesai. Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pertunjukkan sintren biasanya dimulai pukul sembilan malam, di tanah lapang. Makanya saya sering pulang terlebih dulu karena anak perempuan tabu bagi masyarakat kami, jika malam masih diluar rumah. Untuk mendapatkan ruh cerita, saya tak hanya mengandalkan ingatan di masa kecil. Saya juga melakukan wawancara langsung dengan penari Sintren sungguhan. Kebetulan dia teman saya satu angkatan, juga sekolah di kompleks SDN Kasepuhan. Hanya saja dia sekolah di SDN V. Kami sudah saling kenal. Maka wawancara pun berjalan lancar. Ada yang menarik, ketika saya tanya apakah kelak, bila ada yang mengajak anak perempuannya menjadi Sintren, ia mengizinkan? Dengan tegas dia menggeleng. Entah apa maksudnya.
Entry Filed under: Dibalik Novel SINTREN. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed