Mudik

September 29, 2009

LEBARAN adalah alasan tepat untuk mengunjungi kampung halaman. Tradisi yang tak mungkin terhapus ini sangat terasa di Indonesia, ketimbang Negara-negara lain. Mudik di negeri kita begitu heroik. Lihat saja di stasiun kereta api, misalnya. Orang-orang mau menunggu untuk waktu lama demi sebuah tiket ke kampung halaman. Di jalan raya, tak jarang kita lihat tumpukan barang di atap mobil. Entah oleh-oleh apa yang dibawa ke kampung halaman itu. Begitu pula dengan pengendara sepeda motor, keluarga kecil dengan satu atau dua anak tak ragu-ragu untuk mudik dengan bermotor. Aku suka ngeri melihat mereka yang membawa anak-anak untuk mudik dengan sepeda motor. Anak usia balita diajak berpanas-panasan dan meringkuk kedinginan di pelukan ibu, saat balik lagi ke Jakarta. Bila alasannya adalah penghematan, bagaimana dengan resiko yang harus ditanggung? Itulah gambaran mudik di negeri ini, yang kata seorang teman sudah di level ‘kronis’. Tentu dalam arti yang positif. Mudik kemarin aku juga menjalaninya dengan kangen. Selain ibu dan saudara, aku selalu kangen dan menyempatkan diri mengunjungi sekolah dasar tempat aku sekolah dulu. SDN Kasepuhan II. Sekolah inilah yang aku jadikan sebagai salah satu setting novel NAWANG juga SINTREN. Di sinilah toloh Saraswati, Sintren dan tokoh Nawang, novel Nawang bersekolah waktu SD. Dua perempuan yang mampu menjadi subyek. Perempuan yang tegar dan teguh dalam mewujudkan impiannya.

DWY

Entry Filed under: Dibalik Novel SINTREN. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

September 2009
S S R K J S M
« Sep   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts