Apa itu Sintren? (1)
April 17, 2007

APA DAN BAGAIMANA KESENIAN SINTREN ITU?
Sumber: www.pekalongankab.go.id
Isian artikel kali ini akan memuat Deskripsi Kesenian Daerah “Sintren” yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Pekalongan. Artikel ini akan dimuat secara bersambung yang sumbernya diambil dari Buku Deskripsi Kesenian Daerah terbitan Pemerintah Kabupaten Pekalongan – Kantor Pariwisata dan Kebudayaan, beralamat di Jl. Alun-alun No.3 Kajen Telp. (0285) 381783 Pekalongan 51161.
Mengapa Bernama Sintren?
Dari segi asal usul bahasa (etimologi) Sintren merupakan gabungan dua suku kata “Si” dan “tren”. Si dalam bahasa Jawa berarti “ia” atau “dia” dan “tren” berarti “tri” atau panggilan dari kata “putri” (Sugiarto, 1989:15). Sehingga Sintren adalah ” Si putri” yang menjadi pemeran utama dalam kesenian tradisional Sintren.
LEGENDA SINTREN
Kesenian sintren diawali dari cerita rakyat/legenda yang dipercaya oleh masyarakat dan memiliki dua versi.
Versi pertama, berdasar pada legenda cerita percintaan Sulasih dan R. Sulandono seorang putra Bupati di Mataram Joko Bahu atau dikenal dengan nama Bahurekso dan Rr. Rantamsari. Percintaan Sulasih dan R. Sulandono tidak direstui oleh orang tua R. Sulandono. Sehingga R. Sulandono diperintahkan ibundanya untuk bertapa dan diberikan selembar kain (“sapu tangan”) sebagai sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah masa bertapanya selesai. Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari pada setiap acara bersih desa diadakan sebagai syarat dapat bertemu R. Sulandono.
Tepat pada saat bulan purnama diadakan upacara bersih desa diadakan berbagai pertunjukan rakyat, pada saat itulah Sulasih menari sebagai bagian pertunjukan, dan R. Sulandono turun dari pertapaannya secara sembunyi-sembunyi dengan membawa sapu tangan pemberian ibunya. Sulasih yang menari kemudian dimasuki kekuatan spirit Rr. Rantamsari sehingga mengalami “trance” dan saat itu pula R. Sulandono melemparkan sapu tangannya sehingga Sulasih pingsan. Saat sulasih “trance/kemasukan roh halus/kesurupan” ini yang disebut “Sintren”, dan pada saat R. Sulandono melempar sapu tangannya disebut sebagai “balangan”. Dengan ilmu yang dimiliki R. Sulandono maka Sulasih akhirnya dapat dibawa kabur dan keduanya dapat mewujudkan cita-citanya untuk bersatu dalam mahligai perkawinan.
Versi kedua, sintren dilatar belakangi kisah percintaan Ki Joko Bahu (Bahurekso) dengan Rantamsari, yang tidak disetujui oleh Sultan Agung Raja Mataram. Untuk memisahkan cinta keduanya, Sultan Agung memerintahkan Bahurekso menyerang VOC di Batavia. Bahurekso melaksanakan titah Raja berangkat ke VOC dengan menggunakan perahu Kaladita (Kala-Adi-Duta). Saat berpisah dengan Rantamsari itulah, Bahurekso memberikan sapu tangan sebagai tanda cinta.
Tak lama terbetik kabar bahwa Bahurekso gugur dalam medan peperangan, sehingga Rantamsari begitu sedihnya mendengar orang yang dicintai dan dikasihi sudah mati. Terdorong rasa cintanya yang begitu besar dan tulus, maka Rantamsari berusaha melacak jejak gugurnya Bahurekso. Melalui perjalan sepanjang wilayah pantai utara Rantamsari menyamar menjadi seorang penari sintren dengan nama Dewi Sulasih. Dengan bantuan sapu tangan pemberian Ki Bahurekso akhirnya Dewi Rantamsari dapat bertemu Ki Bahurekso yang sebenarnya masih hidup.
Karena kegagalan Bahurekso menyerang Batavia dan pasukannya banyak yang gugur, maka Bahurekso tidak berani kembali ke Mataram, melainkan pulang ke Pekalongan bersama Dewi Rantamsari dengan maksud melanjutkan pertapaannya untuk menambah kesaktian dan kekuatannya guna menyerang Batavia lain waktu. Sejak itu Dewi Rantamsari dapat hidup bersama dengan Ki Bahurekso hingga akhir hayatnya.
BENTUK PENYAJIAN SINTREN
pra pertunjukan, adalah saat dimulainya tabuhan gamelan sebagai tanda akan dimulainya pertunjukan kesenian sintren dan dimaksudkan untuk mengumpulkan massa atau penonton.
Dupan, yaitu acara berdoa bersama-sama diiringi membakar kemenyan dengan tujuan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selama pertunjukan terhindar dari mara bahaya.
Membentuk (menjadikan) sintren.
Tahapan menjadikan sintren dilakukan oleh Pawang yang dengan membawa calon penari sintren bersama dengan 4 (empat) orang pemain. Dayang sebagai lambang bidadari (Jawa: Widodari patang puluh) sebagai cantriknya Sintren. Kemudian Sintren didudukkan oleh Pawang dalam keadaan berpakain biasa dan didampingi para dayang/cantrik. Pawang segera menjadikan penari sintren secara bertahap, melalui tiga tahapan. Kesenian sintren disajikan secara komunikatif antara seniman dan seniwati dengan penonton menyatu dalam satu arena pertunjukan.
Dalam pertunjukan kesenian sintren dibagi menjadi urutan-urutan sebagai berikut :
(Bersambung).-
link:
http://www.pekalongankab.go.id/web/index.php?option=com_content&task=view&id=138&Itemid=0
Entry Filed under: Sejarah Sintren. .
7 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
bizzare_clarity | November 8, 2008 at 4:57 am
bersambung??? sambungannya mana??
2.
pebo | Maret 5, 2009 at 6:06 pm
saya senang dengan orang-orang yang masih intens dan peduli terhadap kekayaan budaya asli Indonesia.
3.
penarisintren | Oktober 1, 2009 at 4:21 am
Terimakasih…
4.
Stephanie | Juli 15, 2009 at 9:26 am
Saya tidak tahu mana yg benar.
Tapi yg saya tw, dari jaman sy kecil, sintren itu khas indramayu, tapi hampir punah…
5.
penarisintren | Oktober 1, 2009 at 4:17 am
Sintren yang saya ketahui adalah budaya di sepanjang pantura, termasuk Indramayu, Cirebon, Tegal, juga Batang. Di Batang pun sintren sekarang sudah tak terdengar lagi. Trims.
6.
rickens | Oktober 7, 2009 at 7:55 am
SINTREN ITU DARI PEMALANG ……di PEMALANG kidul banyak pertunjukan sintren…….
7.
penarisintren | Oktober 12, 2009 at 12:17 pm
Ya Mas, Sintren juga sering dipertunjukkan saat saya masih di SD dulu. Sekarang sudah jarang. Setahuku Sintren ada di sepanjang pantura. Apakah di Pemalang sekarang masih ada pertunjukka Sintren? Terimakasih ya…