Archive for April 15th, 2007
Eksotisme Lokal sebagai Kekuatan Novel
Kurnia Effendi
Cerpenis dan peneliti LPKP
Sumber: Republika, Minggu, 15 April 2007

Eksotisme selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati (dilihat, dirasakan, dihayati), juga untuk digarap. Kita acapkali memandang dengan nilai lebih pada karya-karya seni yang mengusung unsur eksotisme. Umumnya, unsur-unsur unik seperti itu menjadi kekuatan yang ditonjolkan oleh para kreator di jalur indie (independent).
Sebagai contoh, untuk Indonesia, karya-karya film Garin Nugroho — Puisi yang Tak Terkuburkan dan Opera Jawa — adalah film-film dengan nuansa eksotisme. Demikian pula dengan sastra, yang kerap disebut sebagai induk dari film dan seni peran, akan memiliki posisi tersendiri ketika mengangkat nilai-nilai eksotisme. Lalu, apakah eksotisme itu? (lagi…)
1 comment April 15, 2007
Sintren “Menari” di Perpustakaan Daerah Banten
Sumber: Tabloid PARLE, 5 April 2007
Apakah Banten dianggap sebagai wilayah yang memiliki kekayaan tradisi (dalam akar budaya islami) sehingga novel Sintren diluncurkan di sana? “Tujuan kami adalah untuk dapat menggairahkan kegiatan sastra di daerah,“ ujar Wowok Hesti Prabowo selaku ketua panitia, mewakili Komunitas Sastra Indonesia, sebagai penyelenggara acara.
Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira merupakan representasi tradisi dari tanah kelahiran pengarangnya (di Batang). Cerita ini bermula dari sebuah cerpen (1998) yang dikembangkan dan pernah menjadi cerita bersambung di harian Republika tahun 2005. Kini diterbitkan oleh Grasindo. Novel ini dipandang eksotik oleh Kurnia Effendi, salah satu pembicara dalam diskusi, sebagai jejak berharga untuk sebuah tradisi daerah yang mungkin nyaris punah. Dalam Sintren , sang pengarang agaknya mengajak pembacanya untuk mengingat kembali bahwa pernah di suatu masa, peradaban masyarakat Nusantara menganut paham animisme. Ada kekuatan supranatural yang bersifat magis dan mistis dalam proses menjadi Sintren.
Pembacaan petikan akhir novel oleh Widya, pengarangnya, mengawali acara launching yang dihadiri sekitar seratus orang terdiri dari siswa SMA lokal dan mahasiswa Untirta Banten. Lebih istimewa lagi, di ruang baca perpustakaan itu juga hadir sastrawan senior K. Usman. Dalam kesempatan itu, K. Usman mengatakan bahwa novel dengan muatan lokal tetap menarik sepanjang kreatif mengolahnya menjadi bacaan, apalagi jika dengan pandangan baru pengarangnya.
Moh. Wan Anwar, redaktur majalah sastra Horison yang juga menjadi pembicara diskusi, menyampaikan bahwa tradisi dalam novel ini menjadi berkah sekaligus masalah. Menurutnya, Widya telah melakukan hal penting dengan mengeksplorasi isi novel melalui posisi perempuan dalam kehidupan tradisi di daerah yang miskin. Sayangnya Saraswati, tokoh utama dalam Sintren, tidak melalukan pemberontakan.
Menjawab pertanyaan peserta diskusi, Widya menjelaskan tujuan ditulisnya novel Sintren , agar masyarakat (pembaca) diluar wilayah Jawa Tengah tahu tentang tradisi khas Batang. Sebenarnya Sintren juga ada di Brebes, Indramayu, dan daerah lain, tetapi memiliki sedikit perbedaan satu sama lain. “Tak bisa dengan cara lain kecuali berpromosi, bacalah novel itu,“ katanya dengan tertawa renyah.
Acara yang baru pertama kalinya diselenggarakan di perpustkaan Banten itu berlangsung hari Sabtu 24 Maret 2007 yang lalu, pada lepas tengah hari yang cerah. Wakil dari pihak tuan rumah mengharapkan kegiatan ini menjadi awal diskusi sastra selanjutnya, untuk memperkaya potensi daerah. (KE/ Parle )
link:
http://www.tabloidparle.com/news.php?go=fullnews&newsid=368
Add comment April 15, 2007
Novel Sintren Diluncurkan
Sumber: Republika 1 April 2007
Novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira diluncurkan di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten, Jl Saleh Baimin 6 Serang, Sabtu 24 Maret 2007 lalu. Acara ini hasil kerjasama Komunitas Sastra Indonesia Cabang Banten, Perpustakaan Banten dan Penerbit Grasindo. Pada sesi diskusi, novel yang pernah dimuat bersambung di Harian Republika itu dibahas oleh Kurnia Effendi dan Moh Wan Anwar dengan moderator Binhad Nurohmat.
Menurut ketua panitia, Wowok Hesti Prabowo, Banten dipilih sebagai tempat peluncuran buku ini dimaksudkan untuk lebih menggairahkan geliat sastra di daerah itu. Selain itu, kata Ketua KSI Cabang Banten Gito Waluyo, juga untuk merangsang krativitas para penulis fiksi Banten agar lebih produktif.
Add comment April 15, 2007