Si Miskin

DALAM menulis novel saya sangat menyukai masalah-masalah yang bertemakan sosial, seperti kemiskinan yang membelit masyarakat kita.  Perempuan, kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan kemudian menjadi mata rantai dalam novel saya, Sintren.

Di mana pun tempat si miskin kurang mendapat tempat. Baik untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan, misalnya. Untuk pendidikan saja sekolah mahal produk pemerintah tak memugkinkan bagi si miskin untuk bisa menikmatinya. RSBI jelas hanya bisa dinikmati oleh anak-anak orang kaya. Biaya masuknya sering membuat orang tercengang.
Bagaimana si miskin dalam novel Sintren. Zaman saya sekolah dsar dulu ada sebagian orangtua yang kesulitan menyekolahkan anaknya. Menunggak SPP sampai tiga bulan sering saya dengar. Herannya banyak dari mereka malah anak-anak yang cerdas. Saya ingat mereka yang tak bisa sekolah sampai ke SMP hingga SMA sering Karen alasasan ekonomi. (lebih…)

Juli 14, 2010 at 3:21 am 2 komentar

Klidang

MASA kanak-kanakku lebih banyak tinggal di rumah nenek di dusun Teratai Kidul. Lidah wong Batang biasa menyebutnya dengan Nrate. Karenanya saya lebih banyak memiliki teman-teman di Terate Kidul daripada di rumah ibu di Pejambon. Masa sekolah dasar pun bukannya di SDN Proyonanggan tetapi di SDN Kasepuhan. Di sekolah dasar itu terdapat lapangan Kanoman yang biasanya digunakan untuk pentas tarian Sintren. (lebih…)

Mei 6, 2010 at 7:02 am 1 komentar

Sintren

NOVEL Sintren merupakan novel perdana saya yang tanpa saya duga masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Novel ini saya buat seperti tanpa sengaja, sebelum menulis novel saya menulis puisi, cerpen, resensi buku juga laporan jurnalistik untuk beberapa media. Dulu memang memiliki impian kelak bisa menulis novel.

Semula saya ingin mengangkat soal tanah warisan tetapi suami yang sekaligus penulis menyarankan saya menulis tentang Sintren. Sebelumnya saya telah menulis cerpennya untuk harian Republika. Diterbitkan Oktober 1998, cerpennya sendiri saya buat menjelang persiapan saya melahirkan anak pertama di Batang. Ide penulisan cerpen itu sendiri bermula dari profil seniman Cirebon yang masih setia melestarikan budaya tradisi di Cirebon.

(lebih…)

April 28, 2010 at 1:18 pm 4 komentar

Nama Saraswati

DALAM perbincangan di RRI beberapa waktu lalu ada penanya dari Bali mengapa saya memilih nama Saraswati sebagai tokoh utama novel Sintren. Saya menjawab dalam dialog itu karena ketika menggarap novel Sintren nama yang muncul secara otomatis dalam benak saya adalah Saraswati. Saraswati sendiri berarti cerdas. Menurut penanya dari Bali itu, nama Saraswati merupakan dewi yang menyayangi binatang. Dalam dialog itu dia juga berharap novel ini suatu ketika bisa difilmkan. Saya mengamini harapan pendengar RRI dari Bali itu. (lebih…)

November 25, 2009 at 1:27 pm Tinggalkan komentar

Diskriminasi Terhadap Perempuan

DALAM masyarakat Jawa, perempuan seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang adil dalam beberapa hal, misalnya pendidikan. Perempuan Jawa seringkali harus mengalah dengan saudara laki-lakinya. Orangtua seringkali memprioritaskan pendidikan pada anak laki-laki ketimbang perempuan. Alasan mereka, toh pada akhirnya perempuan itu berada di rumah. Mengurus suami dan anak, jadi anak perempuan tak perlu sekolah tinggi. (lebih…)

November 11, 2009 at 12:08 pm 2 komentar

Menghilangkan Kesenian Tradisional

¬†Seorang pembaca novel Sintren mengeluh kepada saya, jika salah satu tarian yang dulu menjadi kebanggaan kampungnya sekarang hampir menghilang. Tari Jaipongan, begitu ujar teman saya itu, kurang diminati kaum remaja. Dia berharap masih ada generasi muda yang masih peduli dengan budaya bangsa yang sesungguhnya selalu eksotik. Tak berbeda dengan Jaipongan, nasib kesenian lokal yang berunsur magis, Sintren bisa saya pastikan telah punah di kabupaten Batang. Tarian yang membentang sepanjang pantura ini masih bisa dinikmati oleh warga Cirebon. (lebih…)

November 1, 2009 at 12:12 pm Tinggalkan komentar

Sintren, Tarian Beraroma Magis

ADA seorang pembaca dari luar Jawa, menanyakan tarian sintren itu seperti apa. Saya mencoba menjawabnya sejelas mungkin. Untuk menjadi penari Sintren, seorang gadis harus melewati semacam ujian, apakah dia mampu untuk menjadi sintren atau tidak. Bagi gadis yang tak mampu menjadi penari Sintren, saat diuji oleh pawang sintren, biasanya akan menjerit-jerit minta tolong atau pingsan. Biasanya sang gadis disuruh duduk di atas kursi kecil, atau dingklik dengan ditutupi sangkar ayam. Sebaliknya bagi gadis yang tenang-tenang saja saat diuji, tidak menjerit atau berteriak apalagi pingsan, artinya dia lolos. Saya pernah mewawancarai sintren yang gagal, mengakui saat itu melihat katak teramat besar. (lebih…)

Oktober 21, 2009 at 4:44 am 2 komentar

Tulisan Lebih Lama


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.